Home / Pendidikan / Perubahan Budaya Lewat Teknologi Multimedia

Perubahan Budaya Lewat Teknologi Multimedia

Oleh; Liza Zahra Br Lubis

Penulis Merupakan Mahasiswa FUAD Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Berbicara perubahan wajah budaya melalui teknologi multimedia pastinya kita langsung teringat pada hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita, seperti tarian tradisional, musik daerah, pakaian adat, bahkan kebiasaan sehari-hari dalam masyarakat. Namun saat ini wajah budaya sudah banyak mengalami perubahan karena hadirnya teknologi multimedia. Kita tahu bahwa multimedia adalah gabungan teks, gambar, video, suara hingga animasi, yang memungkinkan manusia belajar budaya hanya lewat layar. Jika di masa lalu untuk melihat tarian, pertunjukan, atau pameran budaya kita harus datang langsung ke lokasi, maka sekarang cukup melalui layar HP atau laptop saja.

Setiap hal baru tentu memiliki sisi positif dan negatif. Dari sisi positif, budaya jadi lebih gampang dikenal luas. Misalnya tari Saman dari Aceh kini bisa ditonton bahkan sampai ke luar negeri hanya melalui gawai. Anak-anak maupun orang tua yang ingin belajar hal baru, seperti memasak atau membuat kerajinan, juga tidak perlu jauh-jauh datang ke tempat tertentu karena sudah bisa dipelajari lewat layar. Hal ini jelas menunjukkan bahwa teknologi sangat membantu dan mempermudah orang dalam mengakses budaya.

Namun di balik itu, sisi negatif juga muncul. Saat ini banyak remaja lebih menyukai budaya luar seperti K-Pop, drama Korea, maupun budaya Barat lain yang mereka dapat dari media sosial. Kondisi ini membuat budaya lokal kalah pamor dan sering dianggap kuno, padahal budaya sendiri adalah identitas yang harus dijaga. Jika hal ini dibiarkan, generasi muda bisa semakin jauh dari akar budayanya sendiri.

Kuncinya ada di cara kita memanfaatkan teknologi multimedia. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton budaya orang lain, tetapi juga harus kreatif mengemas budaya kita sendiri agar menarik. Contohnya dengan membuat konten TikTok menggunakan musik tradisional yang dipadukan beat modern, atau membuat film pendek dari cerita rakyat dengan efek visual kekinian. Jika dikemas dengan cara ini, budaya bisa tetap hidup sekaligus relevan dengan generasi sekarang.

Pada akhirnya, perubahan wajah budaya melalui multimedia memang tidak bisa dihindari. Tinggal kita yang menentukan, apakah akan hanyut sampai lupa jati diri atau justru memanfaatkan teknologi untuk mengenalkan budaya kita sendiri ke dunia. Dengan kreativitas, budaya lokal bisa terus eksis, berkembang, dan membanggakan di tengah derasnya arus globalisasi.

Tinggalkan Balasan