Oleh; Dr.Maria Ulfa Batoebara, M.Si
Penulis Merupakan Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Dharmawangsa Sumatera Utara
Dalam wacana komunikasi politik global, kata peace atau damai kerap dipuja sebagai simbol moralitas tertinggi. Pesan damai di ruang publik—baik melalui papan kampanye, slogan visual, mural, maupun media sosial—dianggap mewakili nilai kemanusiaan universal. Namun, di balik simbol-simbol tersebut, sering tersembunyi kepentingan politik yang justru melanggengkan ketidakadilan. Fenomena peace of board, yang mengedepankan pesan damai secara visual, dapat menjadi contoh bagaimana komunikasi politik berwajah humanis justru melukai Palestina.
Narasi damai yang sering disebarluaskan cenderung menggambarkan konflik Israel–Palestina sebagai perseteruan antara dua pihak yang seimbang, di mana masing-masing dinyatakan bersalah dan diharapkan untuk menahan diri. Meskipun pendekatan ini terkesan moderat dan bijaksana, sebenarnya hal ini problematis. Konflik ini tidak muncul dari hubungan kekuasaan yang seimbang. Palestina berada dalam kondisi yang dijajah, dengan teritorinya diduduki, mengalami blokade ekonomi, terbatas dalam mobilitas, dan mengalami kekerasan militer yang terstruktur. Ketika pesan damai mengabaikan realitas tersebut, maka yang terjadi adalah penghilangan konteks sejarah dan politik.
Dalam pandangan komunikasi politik yang kritis, tidak ada pesan yang benar-benar netral. Setiap simbol, slogan, dan narasi memiliki ideologi yang mendasarinya. Kampanye damai yang menampilkan simbol-simbol universal seperti burung merpati, wajah anak-anak yang tersenyum, atau kata “coexist” sering kali menggambarkan konflik dalam kerangka kemanusiaan yang umum. Konflik ini dipersempit menjadi soal kebencian dan emosi saja, bukan sebagai akibat dari struktur kolonialisme dan penindasan. Hal ini membuat kekerasan yang dialami oleh masyarakat Palestina tampak biasa, bahkan dapat dimaafkan.
Lebih lanjut, narasi damai seperti ini dapat menghilangkan suara perlawanan Palestina. Ketika tuntutan akan pembebasan, kemerdekaan, dan keadilan dianggap sebagai sikap ekstrem atau radikal, maka perjuangan melawan penjajahan menjadi dianggap sebagai gangguan bagi stabilitas. Bahasa damai digunakan sebagai alat untuk mendiskreditkan perlawanan. Dalam konteks ini, Palestina tidak hanya menjadi sasaran kekerasan fisik, tetapi juga menjadi korban kekerasan simbolik melalui bahasa dan narasi.
Dalam skala global, konsep damai juga berfungsi sebagai diplomasi simbolik bagi negara-negara besar. Dengan menonjolkan istilah netralitas dan kemanusiaan, mereka dapat terlihat sebagai mediator yang bijak tanpa harus mengambil sikap yang tegas terhadap pelanggaran hak asasi manusia. Sikap semacam ini memberi kesempatan bagi para penjajah untuk terus mempertahankan kekuasaannya, sementara para korban didorong untuk “bersabar demi perdamaian”. Dalam praktiknya, netral dalam konflik yang tidak seimbang bukanlah sikap yang adil, melainkan bentuk keberpihakan yang terselubung.
Padahal, sejarah membuktikan bahwa perdamaian yang sejati tidak muncul dari kompromi yang semu, tetapi dari keberanian untuk memperbaiki ketidakadilan. Afrika Selatan tidak bisa mengakhiri apartheid hanya dengan slogan damai, melainkan melalui tekanan global yang kuat terhadap sistem rasis. Demikian juga Palestina, yang memerlukan solidaritas dunia dalam bentuk dukungan terhadap nilai-nilai keadilan, bukan hanya simpati emosional semata.
Komunikasi politik yang etis seharusnya tak hanya berhenti pada retorika damai, tetapi juga harus berani menyebut penjajahan sebagai penjajahan, penindasan sebagai penindasan, dan pelanggaran hak asasi manusia sebagai kejahatan kemanusiaan. Pesan damai tanpa keberpihakan pada keadilan hanya akan menjadi penyamaran yang menutupi penderitaan. Dalam konflik yang tidak seimbang, bersikap diam dan netral bukanlah sikap yang moral, melainkan bentuk pembiaran. Palestina tidak hanya butuh papan pesan damai, tetapi juga keberanian politik dari dunia untuk menghentikan penindasan. Perdamaian yang sejati hanya bisa terwujud ketika keadilan ditegakkan. Tanpa itu, simbol-simbol damai hanya akan terus mendatangkan luka, bukan menyembuhkan.









