Home / Opini / LABIRIN PIKSEL DAN ANGKA (Potret Keseharian Manusia Layar Di Era Digital)

LABIRIN PIKSEL DAN ANGKA (Potret Keseharian Manusia Layar Di Era Digital)

Oleh; Dr. Nuriman Abdullah, M.Ed

Penulis Merupakan Dosen FUAD  Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe

Pernahkah kamu merasakan suatu fase hidup di mana batas antara siang dan malam seolah runtuh, tereduksi hanya menjadi pantulan cahaya putih dari sebuah layar laptop? Bagi sebagian orang, khususnya para pekerja kreatif, akademisi, dan penulis, pemandangan ini bukan lagi sebuah kiasan, melainkan realitas harian yang tak terhindarkan. Dari pagi buta ketika dunia luar masih diselimuti embun dan sunyi, hingga larut malam saat keheningan malam kembali merajai, hari-hari berputar dalam poros yang sama duduk terpaku, menatap monitor, dan membiarkan jemari menari di atas papan tik.

Rutinitas ini telah menjelma menjadi sebuah pertapaan modern. Di hadapan layar empat belas inci tersebut, waktu seolah kehilangan esensinya, yang tersisa di kepala bukanlah lagi ingatan tentang indahnya senja, hangatnya secangkir kopi pagi, atau hari apa saat ini. Di dalam kepala seorang “manusia layar”, ingatan itu telah direduksi secara kejam menjadi satu hal saja; tangal berapakah hari ini……pertanyaan semacam itu, seakan ada tenggat masa yang mengejar…

Tentu saja …..hari-hari dihabiskan dalam pusaran tugas yang menuntut konsentrasi tinggi sekaligus menguras energi mental. Agenda harian sering kali dimulai dengan memelototi lembar kerja kosong, mencoba merangkai diksi demi diksi untuk sebuah naskah buku yang bab akhirnya terasa begitu jauh. Belum selesai dengan dunia fiksi atau non-fiksi tersebut, peralihan langsung terjadi pada dunia akademis atau jurnalisme: menulis artikel opini yang harus tajam, bernas, dan selesai sebelum tenggat waktu siang hari. Sore harinya, tantangan bergeser ke ranah birokrasi intelektual. Otak yang sudah lelah dipaksa kembali fokus untuk menyusun proposal penelitian, menghitung anggaran, merumuskan metodologi, hingga memastikan setiap kalimat memenuhi standar formalitas yang kaku.

Ironisnya, bagian paling melelahkan terkadang bukan pada proses menulisnya itu sendiri, melainkan pada urusan administratif digital. Kita dihadapkan pada kewajiban mengisi berbagai aplikasi daring, portal birokrasi, dan borang pelaporan yang beragam. Masing-masing platform sering kali menuntut data yang serupa, tetapi dengan format, ukuran file, dan aturan sandi yang berbeda-beda. Di sinilah kesabaran diuji hingga titik nadir.

Akibat dari intensitas kerja yang tinggi ini, terjadilah sebuah fenomena psikologis yang unik sekaligus mengkhawatirkan yakni disorientasi waktu kronis.
Ketika mata terus-menerus terpaku pada cahaya biru monitor, persepsi kita tentang waktu melar. Hari Senin, Rabu, atau Sabtu terasa sama saja. Tidak ada lagi perbedaan antara akhir pekan dan hari kerja, sebab bagi seorang pekerja aksara, setiap hari adalah hari untuk mengejar tenggat waktu.
Pertanyaan paling sering muncul di kepala bukanlah “Hari ini hari apa?”, melainkan:
Tanggal berapa sekarang?”
“Batas pengiriman naskah tanggal berapa?”
“Kapan batas akhir unggah?”

Tanggal di pojok kanan bawah layar laptop berubah menjadi mercusuar sekaligus algojo yang menentukan ritme hidup. Hidup kita diatur oleh angka-angka kalender, bukan lagi oleh ritme alami matahari atau bulan. Tentu saja, gaya hidup seperti ini datang dengan harga yang tidak murah. Tubuh memprotes lewat punggung yang kaku, mata yang perih karena radiasi, serta kepala yang sering kali terasa berat akibat terlalu lama berpikir di dalam ruangan tertutup. Ada kalanya rasa jenuh datang melanda, membuat kita bertanya-tanya: apakah semua baris kalimat ini benar-benar bermakna, atau kita hanya sedang berlari di atas treadmill digital yang tidak akan pernah berhenti?

Namun, di balik segala kepenatan fisik dan mental tersebut, ada kepuasan subtil yang sulit dicari tandingannya. Ada kelegaan luar biasa ketika sebuah paragraf yang tadinya tampak rumit akhirnya menemukan bentuk sempurnanya. Ada rasa bangga yang diam-diam membuncah ketika proposal penelitian berhasil dikirimkan, atau ketika lembar demi lembar naskah buku mulai menunjukkan ketebalannya.

Kita semua adalah saksi sekaligus pelaku dari era di mana pikiran manusia dituangkan sepenuhnya ke dalam bentuk digital. Layar laptop yang awalnya terasa seperti ruang isolasi, perlahan-lahan bertransformasi menjadi jendela besar yang menghubungkan gagasan kita dengan dunia luar. Pada akhirnya, hidup dari pagi buta hingga larut malam di depan laptop mengajarkan kita tentang arti ketekunan yang sebenarnya. Meskipun ingatan kita tergerus dan hanya menyisakan angka-angka tanggal, setiap ketikan adalah bukti otentik bahwa kita pernah berjuang, berpikir, dan mencurahkan hidup untuk merawat nalar serta melahirkan karya

Tinggalkan Balasan