Oleh:
Dimas Esa Putra, Hasbi Fadhillah & Aris Gunawan
*Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe
Pendahuluan
Pembicaraan tentang pendidikan Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari sejarah masuknya Islam itu sendiri. Mahmud Yunus menyatakan bahwa sejarah pendidikan Islam di Indonesia seumur dengan awal masuknya Islam ke nusantara. Para penganut Islam terdorong untuk mempelajari ajaran-ajaran agama, termasuk praktik ibadah seperti shalat, doa, dan membaca Al-Qur’an. Proses ini memunculkan bentuk-bentuk pendidikan awal yang berlangsung di rumah, surau, atau masjid, hingga akhirnya berkembang menjadi lembaga pesantren.
Pesantren sendiri merupakan institusi pendidikan tradisional Islam yang tumbuh dari masyarakat dan berkontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter religius bangsa. Mastuhu menjelaskan bahwa pesantren bertujuan untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam, dengan menekankan pentingnya moral agama sebagai pedoman hidup.
Penelitian ini membahas sejarah serta bentuk transmisi keilmuan Islam di Dayah Tahfidz Sulaymaniyah, khususnya dalam metode penghafalan Al-Qur’an dan pengajaran kitab-kitab klasik. Data dikumpulkan dari situs resmi United Islamic Center of Indonesia (UICCI) dan wawancara langsung dengan Abi Thoriq Bonanza selaku pimpinan cabang pesantren Sulaymaniyah di Pantai Labu, Sumatera Utara. Informasi pelengkap juga diperoleh dari pengalaman salah satu penulis, Dimas Esa Putra, yang pernah menjadi santri di pesantren ini.
Sejarah dan Perkembangan Dayah Sulaymaniyah
Pesantren Sulaymaniyah memiliki akar sejarah yang berkaitan dengan kemunculan madrasah di dunia Islam. Model madrasah pertama kali muncul pada masa Nizamul Mulk pada tahun 1064, dikenal dengan Madrasah Nizamiyah. Madrasah kala itu berfokus pada ilmu-ilmu keagamaan, khususnya fiqh, karena banyak pendonasi wakaf lebih memilih mendukung kajian ilmu-ilmu agama dibanding ilmu sains.
Di Turki, perubahan besar terjadi pasca keruntuhan Khilafah Utsmaniyah tahun 1924, di bawah rezim sekuler Mustafa Kemal Atatürk. Madrasah-madrasah tradisional ditutup, pengajaran agama dilarang, dan praktik keagamaan dibatasi. Pendidikan agama mengalami masa kelam, dan generasi pada era 1930–1940-an hampir tidak mendapatkan pendidikan Islam secara formal, kecuali secara sembunyi-sembunyi.
Kondisi inilah yang memantik perjuangan Syeikh Sulaiman Hilmi Tunahan (1888–1959), seorang sufi dari tarekat Naqsyabandiyah, yang secara diam-diam mengajar agama dan Al-Qur’an. Meskipun harus menghadapi penjara berkali-kali, beliau tetap gigih berdakwah. Ia bahkan membiayai sendiri kebutuhan murid-muridnya. Aktivitas dakwahnya berlangsung di berbagai masjid besar di Istanbul, hingga akhirnya pemerintah memberikan izin untuk membuka kembali madrasahnya.
Setelah wafatnya, semangat perjuangan Syeikh Sulaiman dilanjutkan oleh murid-muridnya yang mendirikan ribuan cabang pesantren Sulaymaniyah di seluruh dunia. Saat ini terdapat lebih dari 5.000 pesantren Sulaymaniyah di Turki, 600 di antaranya berada di Istanbul. Secara global, terdapat sekitar 1.000 cabang, termasuk 16 di Indonesia, tersebar di Jakarta, Bandung, Aceh, Medan, Kalimantan, dan daerah lainnya.
Sistem kepemimpinan di pesantren ini tidak mengenal figur tunggal sebagaimana “kyai” di pesantren Indonesia. Semua guru atau ustadz memiliki kedudukan yang setara dalam pembelajaran, pengasuhan, dan bimbingan moral. Mereka digaji dengan standar upah minimum setempat dan mendapatkan fasilitas rumah tinggal.
Motivasi utama mereka bukan pada materi, melainkan keberkahan hidup dan pengabdian kepada ilmu. Nilai spiritual tarekat Naqsyabandiyah yang diwariskan Syeikh Sulaiman menjadi pengikat kuat dalam sistem pembelajaran dan dakwah yang dilakukan.
Metode tahfidz di pesantren Sulaymaniyah dikenal sebagai salah satu metode tertua di dunia, berusia sekitar 600 tahun. Metode ini berbeda signifikan dengan metode tahfidz yang umum di Indonesia, yang biasanya dilakukan secara berurutan dari juz 1 hingga 30.
Proses tahfidz di Sulaymaniyah dimulai dari tahapan pra-tahfidz, yaitu tahsin al-qira’ah dan bin nazhor. Santri menghafal satu halaman Al-Qur’an dengan membaginya menjadi tiga bagian: lima baris bawah, lima baris tengah, dan lima baris atas. Hafalan dilakukan dari bawah ke atas, lalu diulang dari atas ke bawah.
Hafalan dilakukan dalam beberapa putaran. Putaran pertama dimulai dari halaman akhir setiap juz (juz 1 hingga 30). Setelah semua halaman akhir dihafal, dilanjutkan ke halaman sebelumnya di putaran kedua, dan seterusnya hingga putaran kelima. Setelah itu, santri dapat memilih menghafal satu hingga tiga halaman dari setiap juz sesuai kemampuan.
Dengan metode ini, santri dapat menghafal seluruh Al-Qur’an dalam waktu yang relatif singkat. Beberapa santri mampu menyelesaikannya dalam waktu 1 tahun, bahkan ada yang hanya membutuhkan waktu 74 hari.
Setelah menyelesaikan hafalan 30 juz, santri wajib menjalani tahapan setoran ulang (muraja’ah) secara menyeluruh selama 1,5 hingga 2 bulan agar hafalan benar-benar matang.
Pengajaran Kitab dan Kurikulum Kelas
Pengajaran kitab di pesantren ini terbagi dalam empat jenjang: Ibtidai, Izhari, Takammul Alt, dan Takammul.
Pada jenjang Ibtidai, santri mempelajari ilmu nahwu melalui kitab Amtsilah Tashrifiyah, Matnsul bin Awal Asas, Al-Maqshud Awamil, dan Idzhar, serta kitab Ilmul Hal dan Nurul Idzah.
Di tingkat Izhari, santri diajarkan ilmu mantiq, aqaid, dan ushul fiqh.
Pada jenjang Takammul Alt, materi yang diajarkan antara lain Mulla Jami’, Talkhis, dan Kurudi Sharaf. Sedangkan di tingkat Takammul, fokus pelajaran meliputi ushul fiqh, fiqh, aqaid, dan mantiq.
Selain itu, santri juga mendapatkan pelajaran tajwid, bahasa Osmaniyah (Osmanlica), serta kaligrafi Riq’ah. Pada tahap lanjutan, kitab-kitab yang diajarkan meliputi Tafsir An-Nafasi, Tasawuf Al-Maktubat karya Imam Rabbani, Ushul Fiqh Waraqat, dan Ushul Hadis.
Setelah menyelesaikan jenjang Takammul, santri diwajibkan mengikuti program tahfidz Al-Qur’an selama setahun penuh sebelum kemudian diberangkatkan ke cabang-cabang pesantren di seluruh dunia untuk berdedikasi sebagai pengajar.
Penutup
Pesantren Sulaymaniyah adalah lembaga pendidikan yang mengabdikan diri secara total pada pengajaran dan penghafalan Al-Qur’an. Metode tahfidz yang diterapkan terbukti efektif dan efisien, bahkan mampu membentuk penghafal Al-Qur’an dalam waktu sangat singkat.
Lebih dari itu, sistem pendidikan di pesantren ini tidak hanya menekankan pada hafalan, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap kitab-kitab turats. Model ini sangat berbeda dengan kebanyakan pesantren tahfidz di Indonesia yang fokus utama hanya pada hafalan Al-Qur’an.
Menariknya, pengajaran kitab-kitab klasik tersebut hanya dilakukan di pusat utama di Istanbul. Para santri yang telah menyelesaikan pendidikan di sana kemudian kembali ke negara masing-masing sebagai pengajar dan pembina di cabang-cabang pesantren Sulaymaniyah di seluruh dunia.









