Oleh: Salwa Saskia Aulia
Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Budaya membaca di Indonesia semakin hari semakin mengkhawatirkan. Banyak remaja dan mahasiswa yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan gawai, menonton video pendek, atau bermain media sosial dibanding membuka buku. Fenomena ini sering membuat generasi muda disalahkan secara sepihak. Namun sebelum kita menunjuk jari, kita perlu melihat persoalan ini secara lebih mendalam: apakah benar mereka malas membaca, atau ada faktor lain yang membuat minat membaca sulit tumbuh?
Mengapa budaya membaca di Indonesia semakin Menurun?
Menurunnya budaya membaca di Indonesia bukan hanya karena generasi muda dianggap malas, tetapi karena banyak faktor yang saling berkaitan. Dalam kehidupan sehari-hari, siswa dan remaja lebih sering terpapar gawai yang menawarkan hiburan instan dan cepat, menjadi tantangan besar bagi kegiatan membaca yang membutuhkan fokus dan waktu. Selain itu, pengalaman membaca yang diberikan sekolah sering kali tidak menyenangkan karena buku yang tersedia terbatas pada buku pelajaran. Akibatnya, membaca tidak dipandang sebagai kegiatan yang menarik atau memberikan kebahagiaan, melainkan hanya sebagai kewajiban akademik. Faktor-faktor ini secara tidak langsung membentuk pola pikir bahwa membaca bukanlah kegiatan penting dalam keseharian masyarakat
Apakah Mahalnya Harga Buku menjadi Penyebab Berkurangnya Minat Baca?
Harga buku yang tinggi menjadi salah satu hambatan besar bagi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum. Banyak keluarga yang harus mengutamakan kebutuhan pokok, sehingga membeli buku bukan prioritas. Buku fiksi, nonfiksi, novel populer, atau buku pengembangan diri sering kali dipatok dengan harga yang sulit dijangkau, terutama oleh pelajar. Kondisi ini menjadikan membaca sebagai kegiatan mahal dan tidak inklusif. Ketika akses terhadap buku terbatas, minat baca pun ikut menurun karena masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk menikmati bacaan yang variatif dan berkualitas.
Mengapa perpustakaan sekolah tidak dapat menumbuhkan minat membaca siswa?
Banyak perpustakaan sekolah hanya menyediakan buku pelajaran atau koleksi lama yang kurang relevan bagi perkembangan siswa. Buku-buku yang seharusnya menumbuhkan imajinasi, seperti novel anak, cerita rakyat, biografi tokoh, atau buku populer modern, sering kali tidak tersedia. Akibatnya, siswa menganggap perpustakaan sebagai tempat untuk mencari buku tugas saja, bukan tempat untuk bersenang-senang dengan membaca. Minimnya pembaruan koleksi juga membuat perpustakaan kurang menarik, sehingga tidak mampu menciptakan hubungan emosional antara siswa dan aktivitas membaca.
Apakah membaca lewat digital bisa menggantikan pengalaman membaca buku fisik?
Memang benar bahwa membaca digital memberi kemudahan luar biasaโbuku bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Namun, banyak pembaca merasakan bahwa membaca buku fisik memberikan vibes yang tidak dapat digantikan oleh layar. Sensasi membalik halaman, aroma kertas, fokus tanpa notifikasi, serta kedalaman membaca yang lebih terjaga menjadikan buku fisik lebih berkesan. Karena itu, meskipun membaca digital dapat menjadi alternatif, pengalaman membaca langsung tetap memiliki nilai emosional dan psikologis yang membuat pembaca lebih terikat pada kegiatan membaca itu sendiri.
Lalu siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas menurunnya budaya membaca?
Masalah rendahnya budaya membaca tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada generasi muda. Pemerintah perlu menghadirkan buku dengan harga terjangkau serta memperbaiki kondisi perpustakaan agar memiliki koleksi yang menarik dan sesuai kebutuhan zaman. Sekolah perlu menghadirkan suasana membaca yang menyenangkan, bukan hanya sekadar mewajibkan siswa membaca buku pelajaran. Orang tua juga harus menunjukkan teladan dengan membaca di rumah. Sementara itu, remaja dan pelajar perlu membuka diri bahwa membaca adalah kunci untuk membangun cara berpikir yang lebih luas. Dengan kontribusi seluruh pihak, budaya membaca tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga diperkuat kembali.
Penutup
Budaya membaca bukanlah sesuatu yang dapat tumbuh begitu saja tanpa dukungan lingkungan. Ia membutuhkan fasilitas yang memadai, akses yang mudah, serta dorongan dari keluarga, sekolah, dan pemerintah. Membaca adalah jembatan menuju pengetahuan, namun jembatan itu tidak akan kokoh jika buku-buku sulit dijangkau, perpustakaan tidak menarik, dan masyarakat tidak diberi kesempatan merasakan nikmatnya membaca. Oleh karena itu, upaya menghidupkan kembali budaya membaca harus menjadi tanggung jawab bersama. Ketika semua pihak bersinergi, membaca tidak hanya menjadi aktivitas akademik, tetapi juga kebutuhan yang membentuk generasi Indonesia yang kritis, berwawasan luas, dan siap menghadapi tantangan zaman.









