Home / Pendidikan / Pencitraan dan Etika dalam Dakwah Politik

Pencitraan dan Etika dalam Dakwah Politik

Oleh: Dr. Muhammad Saleh,. M.A

Penulis Merupakan Dosen Pascasarjana dan Fakultas Dakwah UIN SUNA Lhokseumawe

Setiap manusia di dunia memiliki kecenderungan untuk menginginkan kekuasaan, baik pada tingkat kecil maupun besar. Hal ini merupakan sifat dasar manusia, tanpa memandang latar belakang atau pemahaman agama mereka. Bahkan individu yang memahami ajaran agama, termasuk komunikator dakwah, sering kali terpengaruh oleh ambisi untuk menduduki posisi yang strategis.

Nafsu yang ada dalam diri manusia kadang-kadang bisa mengalahkan rasionalitas dan moralitas. Dalam konteks ini, penting untuk diingat bahwa kekuasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mewujudkan kebaikan dan membawa manfaat bagi umat. Dalam dakwah, sangat esensial untuk menjaga niat dan menjadikan hikmah sebagai pedoman, agar kekuasaan yang diraih tidak mengarah pada penyalahgunaan, tetapi justru meningkatkan tanggung jawab untuk menebar kebaikan. Oleh karenanya, pengendalian nafsu dan pemahaman yang kuat akan nilai-nilai Islam menjadi kunci dalam mengambil peran di dalam kekuasaan.

Kenyataan dalam Masyarakat

Fenomena pencitraan di kalangan individu dalam masyarakat saat ini menunjukkan keprihatinan yang mendalam. Banyak orang, baik di ranah publik maupun pribadi, cenderung mengenakan โ€œtopengโ€ dalam interaksi mereka, sebuah konsep yang dapat dianalisis melalui lensa ilmu dramathurgi. Dalam konteks ini, mereka menerapkan pola komunikasi โ€œmenjilatโ€ untuk menarik perhatian dan memperoleh simpati dari komunikannya. Individu tersebut memahami bahwa penguasa sering kali menghargai pujian dan penghormatan dari bawahan, yang menyebabkan mereka berusaha tampil dengan citra yang diinginkan.

Namun, fenomena ini mengundang refleksi kritis, karena tindakan tersebut pada dasarnya hanya transien dan tidak mencerminkan keaslian. Dalam perspektif dakwah Islam, penting untuk menekankan bahwa komunikasi yang tulus dan jujur merupakan fondasi utama dalam membangun hubungan yang sehat. Pujian yang berlebihan dan perilaku menjilat berpotensi menciptakan oasis semu dalam interaksi, yang pada akhirnya dapat merusak integritas individu.

Dengan itu, sebagai bagian dari upaya dakwah, kita perlu mendorong sikap yang berdasarkan kejujuran, integritas, dan rasa hormat yang tulus kepada orang lain. Agar , dakwah dapat berkembang dalam suasana yang positif dan konstruktif, menciptakan masyarakat yang lebih baik dan memahami nilai-nilai Islam yang luhur.

Salah satu etika dakwah dan komunikasi yang fundamental adalah larangan untuk melakukan tindakan โ€œmenjilatโ€ demi memperoleh kekuasaan. Kekuasaan yang diraih melalui cara ini biasanya tidak akan bertahan lama dan dapat menyebabkan kerusakan reputasi individu maupun institusi. Sebagai komunikator dakwah yang profesional, penting untuk mengedepankan kompetensi dan integritas dalam meraih posisi yang diinginkan, bukan hanya dengan bersikap menyembah atasan demi mendapatkan penghargaan. Kedudukan seharusnya diperoleh melalui kemampuan dan keahlian, bukan dengan menyingkirkan atau merusak karakter orang lain. Dalam konteks dakwah, perlu diingat bahwa sikap yang menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai Islam adalah kunci untuk mencapai keberhasilan yang berkelanjutan.

Mari membangun reputasi berdasarkan kinerja yang baik dan kejujuran, kita tidak hanya akan mendapatkan pengakuan yang sah, tetapi juga menginspirasi orang lain untuk bertindak dengan cara yang sama. Pendekatan ini memperkuat jaringan sosial yang positif, menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan kolaborasi yang sehat. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu dalam dakwah untuk menjaga prinsip-prinsip etika ini, agar kekuasaan yang dimiliki selaras dengan nilai-nilai moral dan spiritual yang diajarkan dalam Islam.

Kesimpulan

Dari pembahasan ini menegaskan bahwa kekuasaan dalam konteks dakwah seharusnya tidak dipandang sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan dan nilai-nilai Islam. Fenomena pencitraan dan sikap โ€œmenjilatโ€ yang sering muncul dalam praktik dakwah harus dihindari, karena dapat merusak integritas individu dan reputasi lembaga. Sebagai komunikator dakwah yang profesional, penting untuk menjunjung tinggi etika, kejujuran, dan integritas dalam setiap interaksi. Dengan membangun reputasi melalui kompetensi dan sikap tulus, kita tidak hanya menginspirasi orang lain, tetapi juga menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan spiritual dan sosial. Melalui pendekatan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, dakwah dapat berkembang menjadi kekuatan yang menghantarkan perubahan positif dalam masyarakat, sekaligus menjaga keaslian dan integritas ajaran yang dianut.

Tinggalkan Balasan