Home / Pendidikan / Kuntilanak Antara Mitos & Kenyataan Di Masyarakat Aceh

Kuntilanak Antara Mitos & Kenyataan Di Masyarakat Aceh

Oleh: Khairunnisa

khaerunnisaa116@gmail.com

Penulis Merupakan Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam UIN SUNA Lhokseumawe

Mitos adalah sesuatu cerita atau budaya yang di percaya masyarakat di akan suatu pantangan ataupun larangan,namun . Sama seperti halnya  tentang kuntilanak ini yang menjadi mitos ataupun fakta menurut kepercayaan masyarakat aceh. Di aceh mereka percaya bahwa kuntilanak ini adalah roh wanita yang meninggal disebabkan melahirkan ataupun kehamilan.

 Di aceh sosok hantu perempuan  yang sering menyerupai  kuntilanak ini sering disebut burong  tujoh hantu perempuan yang berjumlah tujuh. Tepatnya di desa mancang sebelum di buat jalan tanggul krung pasee  disana terdapat sebuah hutan kosong yang di namakan oleh warga setempat adalah  lampoh langgeh namun di kerenakan tempat tersebut kosong maka warga sekitar dijadikannya pemakaman, dan sekarang kini tempat tersebut sudah jadi pemukiman warga .

menurut cerita warga setempat dan bahkan ada yang mengalami situasi tersebut secara langsung mereka bercerita dulu sebelum jadi pemukiman mereka melihat  ada jenazah ibuk-ibuk yang meninggal sesaat sebelum melahirkan, yang dimana keluarganya harus memakamkan jenazah tersebut di jam 4 subuh karena sudah terlalu lama menunggu kedatangan suaminya ,jam 5 subuh satu jam setelah pemakan itu berlangsung  ada beberapa warga sekitar langsung mendengar suara tangsingan ibuk-ibuk dari arah lampoh langgeh tersebut mereka meyakini bahwa suara itu yang suara tangisan burong tujoh.

banyak sekali cerita yang terjadi di tempat tersebut.ada yang sempat terjadi keguguran melewati jalan tersebut dijam sore menuju magrib dalam bahasa aceh poh sama limong dan sampai sekarang masih ada  terdengar suara itu sesekali dan juga ada yang pernah melihat sosok tersebut terasa nyata , yang mereka lihat sosok perempuan berambut panjang dan berpakaian baju putih . namun bagi mereka mempercayai bahwa aura di jalan tersebut masih kuat hal mistis tersebut  jadi bagi mereka yang tidak sanggung dengan aura di sekitar tempat itu sebaiknya jangan melewati  jalan itu di waktu sore menuju magrib dan malam, mereka percaya bahwa bagi mereka yang tidak tahan akan merasakan  sakit dibadannya baik itu berupa sakit kaki atau sakit perut. Itu semua terasa jadi kenyataan bagi mereka yang mempercayainya.

Selain di  lampoh langgeh  juga terdapat salah satu tempat yang menjadi cerita mitos tapi ada sebagian warga meganggap  bahwa itu nyata adanya, warga sekitar tempat tersebut menyebutnya  rumoh bate, konon katanya rumah tersebut dulunya tempat penyekapan warga masa konflik pemberontakan aceh(GAM)  tahun 1976 sampai dengan tahun  2005  kemudian  di tempat tersebut sempat  terjadi pebunuhan, dan pada akhirnya warga meyakini bahwa tempat tersebut menjadi anker  dan ada juga yang mengalami sakit demam selepas pulang dari sana, karena bagi mereka yang meyakini bahwa  aura di tempat tersebut tidak cocok dengan mereka yang tidak sanggup menerima energi di rumoh bate tersebut. Namun dari semua itu kembali lagi kepada kepercayaan masing- masing kemudian.

Keberadaan kedua tempat tersebut  juga  telah lama menjadi bagian dari tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi Namun, jika dilihat dari sudut pandanga yang lain , fenomena yang dikaitkan dengan kuntilanak dapat dijelaskan melalui berbagai faktor. Misalnya, suara tangisan di malam hari bisa berasal dari hewan tertentu seperti burung atau kucing yang suaranya terdengar menyerupai manusia. Bayangan putih yang terlihat sekilas juga bisa merupakan ilusi optik akibat pencahayaan yang minim atau kondisi psikologis seseorang yang sedang takut. Rasa takut sendiri juga  memengaruhi cara otak memproses informasi, sehingga sesuatu yang biasa bisa tampak menakutkan.

Selain itu, faktor sosial juga berperan penting dalam mempertahankan mitos kuntilanak. Cerita-cerita horor sering digunakan sebagai cara  untuk menanamkan nilai-nilai tertentu, seperti larangan keluar malam atau menjaga perilaku. Dalam masyarakat Aceh yang masih menjunjung tinggi nilai  adat dan norma agama, kisah tentang makhluk halus bisa menjadi cara efektif untuk mengontrol perilaku, terutama pada anak-anak. Meskipun demikian tidak semua masyarakat aceh mempercayai akan keberadaan makhluk halus itu  secara wajar  di sekitar , apalagi gen z sekarang yang lebih tersentuh dengan  pendidikan dan teknologi, mereka bahkan hanya mengira bahwa itu hanya cerita budaya dan itu semua hanya ada di dalam drama film hantu yang ada di televisi  dan tidak mungkin pernah terjadi didalam dunia nyata .

karena bagi mereka hantu tidak ada dan tidak pernah bisa berdampingan dengan manusia. Meskipun ada mereka ada tempatnya masing.Pada akhirnya, kuntilanak atau jenis lainnya  yang di percayai  berada di antara mitos dan kenyataan, tergantung pada sudut pandang masing-masing. Bagi sebagian orang, ia adalah makhluk nyata yang harus diwaspadai, sementara bagi yang lain, ia hanyalah simbol dari ketakutan manusia terhadap hal yang tidak diketahui. Yang jelas, keberadaan kuntilanak  dan jenis lainnya sebagai bagian dari cerita rakyat tetap memiliki nilai budaya yang penting dan menjadi cerminan dari cara masyarakat memahami dan menyikapi  dunia di sekitarnya

Tinggalkan Balasan