Home / Pendidikan / Pendidikan Untuk Menjadi Manusia Merdeka Dan Berperadaban

Pendidikan Untuk Menjadi Manusia Merdeka Dan Berperadaban

Saat ini banyak yang beranggapan bahwa jika ada penduduk di sebuah wilayah yang tanpa ada bentuk pemerintahan konvensional (teokrasi, monarchi, demokrasi) maka wilayah itu tak akan punya kedaulatan dan tak layak mengangap diri mereka sebagai sebuah negara walau mereka bisa hidup bersama dengan damai dan rukun guyub, gotong royong tanpa partai.

Asumsi seperti itu lah yang menjadikan para penguasa bak pengusaha yang meraup untung dari jabatan. Maka wajar jika kini rakyat banyak yang merasa berada di negara yang masih terjajah. Rakyat yang tersadar menganalogikan kondisi ini dengan kondisi pembantu rumah tangga yang lama-lama malah menjadi raja bagi majikannya. Sang pembantu yang sengaja membiarkan anak majikannya jadi bodoh dan malas agar kelak rumah itu dikuasai oleh anak-anak nya yang cerdas tapi culas. Itu lah gambaran di negara yang para penguasanya membungkam kebenaran.

Negara-negara yang dianggap telah maju dalam peradaban padahal sejatinya masih belum merdeka dari cengkraman hegemoni negara lain, memaksa agar semua penduduk dunia berkonsep yang seragam, sehingga mensyaratkan juga bahwa wujud sebuah negara adalah pengakuan dari negara-negara lain.

Kita memang butuh adanya negara, agama dan bentuk pemerintahan demi terjaganya kedamaian dan kesejahteraan bersama, namun karena fakta yang ada justru sebaliknya. Konsep negara begitu juga agama adalah sebuah konsep yang positif dengan target kurikulum mencapai hal positif, kendati demikian, karena fakta yang ada, negara dan agama hanya jadi alat syahwat vested interest para penguasa dan pengusaha, maka wajar saja Jhon Lenon pernah mengajak kita membayangkan adanya hidup bersama tanpa negara dan tanpa agama;

Cheran sebuah wilayah di Mexico adalah contoh masyarakat yang hidup damai dengan tingkat kriminalitas yang rendah tanpa ada campur tangan negara, partai, militer dan atau otoritasย  keagamamaan. Di Cheran keberadaan partai politik dilarang keras, karena menurut mereka parpol hanyalah alat untuk memecah belah masyarakat. Mereka memandang bahwa keberadaan parpol lebih banyak mudhorotย  -nya daripada manfaatnya, mirip dengan bahayanya alkohol yang mereka juga larang dalam penyalah gunaannya. Yang luar biasanya di Cheran tak ada kriminalitas berupa pembunuhan ataupun penculikan, padahal tak ada militer selain hanya milisi dari masyarakat dengan tugas bergantian seperti jadwal ronda jaga malam di sebuah RW.

Begitu juga rakyat Chiapas yang merasa merupakan komunal merdeka tanpa mengizinkan intervensi mexico yang mengklaim Chiapas adalah bagian darinya. Masyarakatnya yang suka menggunakan maskerย  seperti ninja ini menyebut dirinya safatista, melangsung demokrasi tanpa adanya parpol atau dewan perwakilan rakyat, sebab mereka mungkin khawatir lama kelamaan akan ada hewan pemeras rakyat.

Mereka adalah masyarakat agraris yang menolak jual beli tanah, pajak tanah, menolak juga dalam penggunan pestisida dan berbagai hal produk kaapitalis barat yang bisa merusak ekosistem alam. Sama halnya dengan wilayah Cheran, masyarakat safatista pun menolak konsumsi alkohol karena menganggap hal itu adalah pemicu kekerasan dari akibat diri terpenjara ( tidak merdeka ) saat fungsi otak mereka tak terkendali. Herannya masyarakat yang ingin merdeka dari dominasi dan hegemoni barat ini dicap sebagai pemberontak. Lalu apa makna merdeka sesungguhnya?

Arnold Toynbee Sejarawan Inggris, dengan karya monumentalnya yang berjudul A study of History yg isinya lebih kepada tentang civilization on Trial, dalam sejarah peradaban. Menurutnya bahwa siklus peradaban, dari lahirnya sebuah peradaban, tumbuh dan berkembangnya yang lalu gugur runtuh seperti daun dan ranting kering adalah karena beberapa faktor, diantaranya dekadensi moral yang meruntuhkan militansi generasi dalam inovasi dan kreatifitas, hingga secara internal tidak bisa membentengi hantaman dari pihak eksternal.

Arnold Toynbee menekankan pentingnya peran individu dan masyarakat dalam membentuk peradaban. Dia juga mengingatkan akan urgensinya menjaga keseimbangan antara universalisme (kesatuan dan persatuan) juga partikularisme (keunikan dan keberaganan) dalam peradaban.

Dalam Civilization on Trial, Arnold Toynbee mengungkapkanย  bahwa krisis peradaban selainย  disebabkan adanya perang dengan pihak eksternal juga karena kesenjangan sosial yang mengakibatkan kerusakan ekosistem dan kemorosotan moral generasi yang kehilanganย  makna dan tujuan hidup. Islam sangat memperhatikan bagaimana mendidik generasi yang merdeka dan berperadaban.

Sabda Rasulullah Saw yang artinya:

โ€œKeseimbangan dunia ini bertumpu pada empat perkara: ilmu para ulama, keadilan para pemimpin, kedermawanan orang-orang kaya, dan doa orang-orang miskin. Jika tidak ada ilmu dari para ulama, maka orang-orang yang bodoh akan binasa. Jika tidak ada keadilan dari para pemimpin, maka manusia akan saling memakan satu sama lain. Jika tidak ada kedermawanan dari orang-orang kaya, maka orang-orang miskin akan binasa. Dan jika tidak ada doa dari orang-orang miskin, maka orang-orang kaya akan binasa. Maka, siapa di antara mereka yang paling penting menurutmu?โ€

Dari hadits di atas, dapat kita sadari bahwa sebenarnya, walau sebuah koloni di sebuah wilayah tidak diakui sebagai sebuah negara, tapi tetap saja manusia itu secara fitrah insaniyahnya, butuh seorang imam yang ditunggu (al muntadzor), dan urutan nya adalah atas dasar keilmuan yang bisa membuat ia memimpin dengan keadilan sehingga menjadikan masyarakat penuh kesyukuran dalam kesejahteraan bersama.

Ditulis oleh;ย ย Syarif Jaโ€™far Shadiq (Sufimusafir/Ki Langlangbuana)

Penulis Merupakan penggagas Komunitas Lintas Keyakinan dengan nama komunitas Agama Cinta, juga Konsultan Pendidikan Independen yang berfokus pada perbaikan mutu afektif dan moderasi beragama

4 Komentar

  • Tempat yg anda sebutkan itu hanya wilayah kecil di Mexico,hanya setingkat kabupaten, untuk wilayah sekecil itu masuk akal jika tidak ada partai, tentara, karena lingkupnya kecil, bandingkan dengan wilayah Indonesia dengan jumlah penduduk nya yg besar 280 juta jiwa, tidak bisa di terapkan tanpa tentara dan kepolisian, negar kita pernah memgalami tanpa partai, partai dan DPR di bubarkan bung Karno, lihat hasilnya bung Karno menjadi otoriter lawan -lawan politik nya di penjarakan olehnya, padahal lawan -lawan politik adalah teman seperjuangannya untuk kemerdekaan Indonesia, meskipun DPR buruk tapi lebih baik ada DPR, hanya sekarang kita harus benar-bebar memilih angota DPR dengan baik, persyaratan untuk menjadi angota DPR lebih di tingkatkan contoh : yg menjadi angota DPR harus S2, bahasa Inggris bagus dan public speaking juga bagus, tidak asal comot saja

  • Demokrasi tanpa partai bisa terwujud jika pemimpin dan rakyatnya tidak serakah, dulu bung Karno membubarkan DPR dan partai, yang terjadi bung Karno bersikap otoriter, semua yg tidak setuju dgn kebijakannya di tangkap dan di penjara seperti Sutan Syahrir dan buya hamka, meskipun DPR buruk tapi lebih buruk tanpa DPR, sebab tidak ada yg mengawasi kinerja dan kebijakan-kebijakan president, disinilah peran rakyat berfungsi seperti di saat pemilu pilihlahcaleg yg benar2 amanah dan bertanggung jawab,

Tinggalkan Balasan