Home / Pendidikan / Jeungki Bagian Dari Budaya Masyarakat Aceh

Jeungki Bagian Dari Budaya Masyarakat Aceh

Oleh; Intan Shafira

intansafira140305@gmail.com

Penulis Merupakan Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam UIN SUNA Lhokseumawe

Sangat Tidak asing bagi masyarakat aceh jika mendengarkan sebuah nama Alat tradisional “Jeungki”. Jeungki adalah sebuah alat tradisional yang banyak di gunakan oleh masyarakat Aceh terdahulu untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alat tradisional satu ini sudah sangat melekat pada diri masyarakat Aceh pada masa itu, dikarenakan alat ini juga sangat berguna bagi masyarakat Aceh. Umumnya jeungki ini terbuat dari kayu yang kuat dan dirancang seperti tuas panjang, jeungki ini pula bukan alat dari kayu yang mudah rusak saat dipakai, karna memakai kayu mane(bak mane, yaitu kayu yang memiliki kualitas yang bagus dan tahan terhadap benturan kuat. Pada alat tradisional jeungki ada bagian alu/Alue (top pade) yaitu bagian penumbuk padi ada dibagian depan jeungki, beserta(Lesung) yaitu tempat untuk menumbuk padi, dan ada (ikue jeungki) yaitu kayu tempat pijakan untuk menumbuk padi.

Dengan rancangan struktur orang Aceh terdahulu yang menciptakan sebuah alat tradisional yang sangat bermanfaat bagi masyrakat aceh pada zamannya, sudah membuktikan bahwa masyarakat Aceh sangat hebat dan akan melahirkan generasi-generasi yang hebat pula di zaman yang akan datang. Terbukti pula alat ini pada zaman itu sangat di gemari banyak masyarakat Aceh. Untuk tata cara penggunaanya ini juga sangat mudah, dengan 1 orang menginjak (ikue jeungki) yaitu kayu bagian belakang, dan bagian depannya akan terangkat yaitu (Top Pade) sehingga dapat menumbuk padi dengan sempurna, proses ini juga terus berulang hingga kulit padi terkelupas dan menjadi beras yang indah.

Pada masa itu Jeungki ini bukan hanya digunakan untuk menghasilkan sebuah beras yang enak dan bersih, namun dari alat jeungki ini pula menghadirkan kebiasaan bagi masyarakat aceh, setiap hari besar seperti Hari raya Idul fitri maupun idul Adha, masyarakat Aceh Pasti akan melakukan, kegiatan yang hampir wajib setiap tahunnya, yaitu penumbukan tepung ramai-ramai, dikarenakan masyarakat Aceh ingin membuat kue untuk menyambut hari raya idul fitri dan idul adha, begitulah betapa menyenangkan hidup dimasa yang penuh rasa kebersamaan, dan di aceh Jeungki ini juga sudah menjadi symbol kebersamaan masyarakat Aceh.

Pada masanya, penggunaan jeungki ini sangat di sukai oleh masyarakat aceh, sehingga biasanya bagi orang aceh pasti memiliki alat jeungki ini, karena jeungki ini bukan hanya sekedar  menjadi sebuah alat yang di perlukan oleh setiap masyarakat aceh, namun kegiatan ini juga sudah menjadi budaya yang kental di Aceh, dan dari penggunaan alat tradisional ini juga memiliki makna simbol kebersamaan yang indah bagi masyarakat Aceh, tanpa disadari ketika mereka saling membantu saat menggunakan alat ini, sebenarnya mereka sedang memperkuat hubungan dan interaksi sosialnya.

Pada saat itu, saya juga menjadi saksi betapa indahnya kebersamaan dimasa itu ketika alat ini sama-sama digunakan, dengan mereka yang saling membutuhkan satu sama lain.dimasa itu juga banyak canda tawa orang-orang dewasa yang terdengar dan anak-anak yang suka berkumpul untuk bermain, hal itu sangat mudah untuk ditemukan, dibandingkan dengan zaman sekarang semuanya berjuang dengan usaha masing-masing, Kebersamaan dimasa itu tidak akan terlupakan.walaupun Jeungki dikehidupan yang serba modern ini sudah sangat  jarang ditemui, namun bagi masyarakat di Aceh Jeungki ini tetap memiliki nilai yang penting sebagai warisan budaya, alat ini juga bisa menjadi bukti bagi masyarakat Aceh terdahulu karna mampu memanfaatkan bahan-bahan yang sederhana untuk menciptakan sebuah alat yang sangat bermanfaat,mampu memenuhi kebutuhan hidup,serta mampu menciptakan symbol kebersamaan pasa masa itu.

 

 

 

Tinggalkan Balasan