Home / Opini / DAYAH DAN TRANSMISI ILMU-ILMU KEISLAMAN DI ACEH(Studi Kasus di Dayah Terpadu Jami’ah Az-Zanjabil)

DAYAH DAN TRANSMISI ILMU-ILMU KEISLAMAN DI ACEH(Studi Kasus di Dayah Terpadu Jami’ah Az-Zanjabil)

Oleh:
Hari Nurhidayat & M. Aldyan

*Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe

Pendahuluan

Artikel ini secara umum membahas peran dayah di Aceh dalam mentransmisikan ilmu-ilmu keislaman. Secara khusus, artikel ini menyoroti dua aspek utama. Pertama, sejarah dan perkembangan Dayah Terpadu Jami’ah Az-Zanjabil sebagai lembaga pendidikan Islam. Kedua, peran dayah tersebut dalam pengajaran kitab kuning sebagai bagian dari proses transmisi ilmu-ilmu keislaman kepada para santri.

Penelitian ini merupakan hasil observasi langsung di Dayah Terpadu Jami’ah Az-Zanjabil yang dilakukan dalam rangka penyusunan tugas Ujian Tengah Semester. Penulis sendiri merupakan alumni dayah tersebut pada tahun 2017–2023, sehingga memiliki pengalaman langsung yang mendalam terhadap proses pendidikan di dalamnya.

Sejarah dan Perkembangan Dayah

Dayah Terpadu Jami’ah Az-Zanjabil merupakan lembaga pendidikan Islam yang berada di bawah naungan Yayasan Az-Zanjabil Al-Asyi Bireuen, yang secara legal formal didirikan oleh notaris Abdullah Ismail, SH, Sp.N. Lembaga ini mulai beroperasi pada tahun ajaran 2014/2015 atas inisiatif Waled Zanjabil, yaitu Drs. Tgk. H. Akhtiar Ismail, Lc., MA, yang juga menjabat sebagai Katib ‘Am Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Kabupaten Bireuen dan dosen senior di IAI Almuslim.

Dayah ini didirikan dengan tujuan memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan Islam terpadu, serta membentuk insan kamil yang unggul secara intelektual dan spiritual demi kemajuan agama, bangsa, dan negara.

Sebagai lembaga pendidikan terpadu, Dayah Jami’ah Az-Zanjabil menggabungkan kurikulum pendidikan dayah dan pendidikan formal secara simultan. Selain pembelajaran di kelas, dayah ini juga menyelenggarakan berbagai program ekstrakurikuler untuk memperkuat keterampilan para santri dalam aspek keagamaan dan duniawi.
Pimpinan dayah, Drs. Tgk. H. Akhtiar Ismail, Lc., MA, memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman internasional, termasuk di Mesir, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Beliau kini aktif sebagai dosen tetap di IAI Almuslim Aceh dan memimpin yayasan yang menaungi dayah ini. Kegiatan belajar mengajar di semua jenjang—dari TK hingga MA—ditangani oleh tenaga pengajar berkompeten dan sesuai dengan keahlian masing-masing dalam kitab-kitab yang diajarkan.

Transmisi Ilmu-Ilmu Keislaman

Transmisi ilmu-ilmu keislaman di Dayah Terpadu Jami’ah Az-Zanjabil dilakukan melalui pengajaran kitab-kitab klasik (kitab kuning) yang dikaji berdasarkan jenjang pendidikan.

Pada tingkat tsanawiyah (setara MTs), para santri mempelajari berbagai bidang keilmuan Islam. Dalam bidang tasawuf, mereka mempelajari kitab Aqidah Islamiyyah karya Syaikh Bashri bin al-Hajj, Akhlak Libanin karya Syaikh Umar bin Ahmad Baraja, serta Taisirul Khallaq karangan Hafidz Hasan al-Mas’ud.
Dalam ilmu sharaf, digunakan kitab Al-Amtsilah at-Tashrifyyah oleh KH. Muhammad Ma’shum bin Ali dan Kitabuttashrif oleh Hasan bin Ahmad.
Untuk bidang nahwu, santri mempelajari Awamil karya Syaikh Abu Bakar Abdul Qahir al-Jurjani serta Nahwu Wadhih yang ditulis oleh Dr. Ali al-Jarimi dan Dr. Mustafa Amin.
Dalam fiqh, kitab yang diajarkan meliputi Matan Takrib karya Syaikh Abu Syuja’ dan Bajuri karya Syaikh Ibrahim al-Bajuri.
Untuk pelajaran tarikh digunakan kitab Khulashah Nurul Yaqin oleh Syaikh Umar Abdul Jabbar, sedangkan dalam bidang tauhid digunakan Kifayatul Awam karya Syaikh Ibrahim al-Bajuri.

Di jenjang aliyah (setara MA), materi kitab menjadi lebih kompleks. Dalam pelajaran tasawuf, santri mempelajari Ta’lim al-Muta’allim karya Burhanuddin al-Zarnuji.
Pada mata pelajaran tarikh, kitab yang digunakan adalah Nurul Yaqin karya Syaikh Muhammad al-Khudari dan Khulashah Nurul Yaqin oleh Syaikh Umar Abdul Jabbar.
Dalam fiqh, kitab yang dipelajari mencakup Bajuri oleh Syaikh Ibrahim al-Bajuri, I’anatuth Thalibin oleh Sayyid Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatha, serta Tuhfatuts Tsaniyyah oleh Muhammad Muhyidin Abdul Hamid.
Ilmu nahwu diajarkan melalui kitab Al-Kawakib ad-Durriyyah karya Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Abdul Bari al-Ahdal dan Nahwu Wadhih.
Dalam pelajaran balaghah, santri mempelajari Balaghah al-Wadhihah yang mencakup ilmu bayan, ma’ani, dan badi’ karya Ali al-Jarim dan Mustafa Amin. Sementara untuk bidang tauhid tetap menggunakan kitab Kifayatul Awam karya Syaikh Ibrahim al-Bajuri.

Penutup

Dayah Terpadu Jami’ah Az-Zanjabil merupakan model pendidikan Islam terpadu yang tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama secara mendalam melalui kitab-kitab klasik, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan formal dan ekstrakurikuler. Dengan kombinasi sistem pendidikan ini, santri dibekali untuk mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus mempertahankan nilai-nilai keislaman yang otentik.
Didirikan oleh sosok ulama berpengalaman, Drs. Tgk. H. Akhtiar Ismail, Lc., MA, dayah ini telah memberikan kontribusi nyata dalam mencetak generasi yang cerdas secara intelektual dan spiritual. Transmisi ilmu-ilmu keislaman di Dayah Jami’ah Az-Zanjabil menunjukkan bagaimana lembaga tradisional seperti dayah tetap relevan dan penting dalam pendidikan Islam kontemporer di Aceh.

Tinggalkan Balasan