Oleh: Elfrida Putri Aulia
Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi berpikir dan berpengetahuan bagi siswa sejak dini. Namun, di tengah gempuran kemajuan pendidikan global, pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar justru menghadapi krisis yang nyata. Pembelajaran yang seharusnya menumbuhkan kemampuan literasi, berpikir kritis, dan ekspresi diri, kini banyak terjebak dalam rutinitas metode konvensional: ceramah, hafalan, dan penugasan monoton. Akibatnya, anak-anak kehilangan antusiasme belajar bahasa ibu mereka sendiri. Krisis ini bukan sekadar tentang kemampuan membaca dan menulis yang rendah, melainkan juga tanda bahwa sistem dan metode pengajaran kita perlu segera dibenahi.
Krisis Literasi dan Lemahnya Hasil Belajar Bahasa Indonesia di SD
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi dasar siswa SD di Indonesia masih mengkhawatirkan. Menurut penelitian Siti Maryani (2024) dalam Jurnal Educatio (Jurnal Pendidikan Indonesia), sebanyak 65% siswa kelas III SD belum mencapai standar literasi membaca dasar, terutama dalam memahami isi bacaan sederhana. Hal serupa diungkapkan oleh Nurhayati & Lailatul Zahra (2024) dalam Jurnal Karimahtauhid: Jurnal Pendidikan Dasar Islam, yang menemukan bahwa siswa mengalami kesulitan mengenali fonem dan grafem, serta sering melakukan kesalahan ejaan karena proses pembelajaran yang masih berpusat pada guru. Bahkan, Rahmawati dkk. (2024) dalam Jurnal Pendidikan Tambusai (JPTAM) menegaskan bahwa โkrisis literasiโ ini berdampak langsung pada lemahnya kemampuan berpikir kritis siswa SD. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia belum sepenuhnya berhasil mengembangkan kemampuan dasar literasi sebagai bekal bagi siswa dalam memahami dunia sekitar mereka.
Metode Pengajaran yang Masih Konvensional dan Kurang Variatif
Salah satu penyebab utama krisis ini adalah metode pengajaran yang belum bertransformasi. Banyak guru masih terpaku pada metode ceramah dan penugasan tertulis tanpa melibatkan siswa secara aktif. Ahmad Rizqi dan Fitria Nuraini (2023) dalam Jurnal PENTAS mencatat bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di SD โbelum memberikan ruang bagi siswa untuk berekspresi secara kreatif dan kolaboratif.โ Penelitian Lestari & Sulaiman (2024) dalam JOEL (Journal of Education and Learning) juga menambahkan bahwa metode konvensional membuat siswa pasif, mudah bosan, dan kurang memahami makna teks yang dibaca. Dalam Jurnal Karimahtauhid, disebutkan bahwa โkurangnya variasi metode pengajaran menjadi salah satu penyebab utama kesulitan membaca dan menulis pada siswa SD.โ Dengan kata lain, metode yang digunakan belum mampu menjadikan pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai kegiatan yang menyenangkan dan menantang secara intelektual.
Keterbatasan Sarana dan Kompetensi Guru
Krisis metode pengajaran juga diperparah oleh keterbatasan sumber daya dan pelatihan guru. Dalam penelitian yang sama, Lestari & Sulaiman (2024) mengungkapkan bahwa sebagian besar sekolah dasar masih kekurangan buku ajar, media pembelajaran, dan teknologi pendukung. Sementara itu, Indra Gunawan & Fitri Wahyuni (2023) dalam Jurnal JAHE: Jurnal Abdimas Humaniora dan Edukasi menemukan bahwa banyak guru SD belum mendapatkan pelatihan memadai untuk menerapkan metode interaktif dalam pengajaran Bahasa Indonesia. Akibatnya, pembelajaran menjadi kaku, tidak kontekstual, dan jauh dari kehidupan nyata siswa. Padahal, bahasa seharusnya diajarkan sebagai pengalaman sosial dan komunikasi bermakna bukan sekadar latihan tata bahasa yang kering dan membosankan.
Urgensi Pembaruan dan Arah Solusi
Krisis ini masih bisa diatasi jika dilakukan pembaruan metode dan paradigma pengajaran. Aisyah & Dwi Kurnia (2024) dalam Jurnal Holistika: Jurnal Kajian Ilmiah dan Pendidikan menunjukkan bahwa penerapan metode Role Playing dan Cooperative Learning terbukti dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia secara signifikan di SD. Selain itu, Sari & Ningsih (2023) dalam Jurnal BEST: Journal of Education and Social Development membuktikan bahwa pembelajaran berbasis literasi mampu meningkatkan minat baca serta partisipasi aktif siswa. Temuan-temuan ini menegaskan pentingnya pergeseran dari pembelajaran yang berpusat pada guru ke pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning), agar anak-anak lebih aktif, kreatif, dan berpikir kritis. Dengan pendekatan yang kontekstual dan menyenangkan, Bahasa Indonesia dapat kembali menjadi pelajaran yang hidup di hati siswa.
Penutup
Berdasarkan hasil dari berbagai penelitian tersebut, jelas bahwa pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar tengah mengalami krisis serius bukan karena kurangnya kemampuan siswa, tetapi karena lemahnya sistem dan metode yang digunakan. Pembelajaran yang monoton, minim inovasi, serta keterbatasan sarana dan pelatihan guru menjadi akar masalah utama. Sudah saatnya dunia pendidikan Indonesia berbenah: memperkuat kompetensi guru, memperkaya metode pengajaran yang kontekstual dan interaktif, serta menanamkan budaya literasi sejak dini. Krisis ini tak bisa dibiarkan berlarut! Guru, sekolah, dan pemerintah harus bersatu memperbarui cara mengajar Bahasa Indonesia agar lebih kontekstual dan menyentuh kehidupan nyata siswa. Mari wujudkan pembelajaran yang membebaskan, mencerdaskan, dan menumbuhkan kecintaan pada bahasa kita sendiri yaitu bahasa indonesia









