Oleh; Dr. Maria Ulfa Batoebara, M.Si
Penulis Merupakan Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Dharmawangsa Sumatera Utara
Viralnya kasus Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat tahun 2026 kemarin menunjukkan bahwa literasi komunikasi itu sama pentingnya dengan kecerdasan akademik. Masalahnya bukan hanya soal jawaban benar atau salah, tetapi bagaimana komunikasi antara peserta, juri, dan panitia dilakukan secara jelas, adil, dan terbuka. Dalam peristiwa ini, publik menilai ada miskomunikasi dan ketidakkonsistenan penilaian. Jawaban yang dianggap sama justru diberi nilai berbeda, lalu respons juri dan MC dianggap kurang empatik ketika peserta menyampaikan keberatan. Akibatnya, kepercayaan publik langsung turun dan video tersebut viral di media sosial.
Dari sisi literasi komunikasi, ada beberapa pelajaran penting:
- Komunikasi harus jelas dan transparan
Dalam kompetisi pendidikan, aturan dan alasan penilaian perlu disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan persepsi ketidakadilan. Penjelasan yang transparan juga dapat mengurangi kesalahpahaman dan menjaga kepercayaan peserta maupun publik terhadap lembaga penyelenggara. - Kemampuan mendengar sama pentingnya dengan berbicara
Juri bukan hanya menilai jawaban, tetapi juga harus memastikan mereka benar-benar memahami apa yang disampaikan peserta. Kontroversi ini muncul karena ada perdebatan soal artikulasi dan kata yang dianggap tidak terdengar jelas. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi efektif membutuhkan dua arah: kemampuan menyampaikan pesan dan kemampuan memahami pesan secara tepat. - Etika komunikasi memengaruhi citra institusi
Cara panitia merespons protes peserta menjadi sorotan besar. Di era digital, satu respons yang dianggap arogan bisa langsung menyebar luas dan membentuk opini publik. Sikap tenang, empati, dan profesional dalam menghadapi kritik sangat penting agar institusi tetap dipercaya masyarakat. - Media sosial memperbesar dampak komunikasi
Publik sekarang lebih kritis. Banyak komentar netizen menilai bahwa acara pendidikan juga harus menjunjung sportivitas dan profesionalisme. Sekali terjadi kesalahan komunikasi, dampaknya bisa meluas dalam hitungan menit karena tersebar melalui berbagai platform digital. - Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga karakter komunikasi
Kasus ini membuktikan bahwa kecerdasan akademik perlu diimbangi dengan kemampuan berkomunikasi yang baik. Peserta, juri, maupun panitia sama-sama perlu memiliki sikap menghargai, mendengarkan, dan menyampaikan pendapat secara bijak. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. - Evaluasi terbuka dapat meningkatkan kualitas sistem pendidikan
Kritik dari masyarakat seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman, tetapi sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem kompetisi pendidikan. Dengan adanya evaluasi yang terbuka, penyelenggara dapat meningkatkan kualitas aturan, sistem penilaian, dan mekanisme komunikasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Kejadian ini sebenarnya bisa menjadi momentum positif untuk memperbaiki budaya komunikasi di dunia pendidikan: lebih objektif, terbuka terhadap evaluasi, dan menghargai peserta. Kecerdasan bukan hanya soal hafalan atau jawaban cepat, tetapi juga tentang cara berkomunikasi secara adil, empatik, dan bijak. Dalam dunia pendidikan modern, kemampuan menyampaikan pendapat, mendengar orang lain, dan menjaga etika komunikasi merupakan bagian penting dari kualitas intelektual seseorang.









