Oleh; Nur Iman Abdullah, M.Ed, Ph.D
Penulis Merupakan Dosen Sosiologi Pendidikan Pada UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseuamwe
Di ruang-ruang sunyi perpustakaan, di antara tumpukan buku yang mulai berdebu, dan di balik layar komputer yang menyala hingga larut malam, banyak dosen sedang menjalani pergulatan yang tidak selalu terlihat. Mereka menulis, meneliti, mengajar, dan mengabdi. Mereka menjalankan Tridharma bukan sekadar sebagai kewajiban administratif, melainkan sebagai panggilan intelektual. Namun, di tengah perjalanan itu, muncul sebuah pertanyaan yang semakin mengusik: apakah ilmu masih dihargai karena kebenarannya, atau karena nilai ekonominya?
Sejak zaman para filsuf Yunani hingga tradisi keilmuan Islam klasik, ilmu dipandang sebagai jalan menuju kebijaksanaan. Socrates mengajarkan bahwa kehidupan yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani. Al-Ghazali memandang ilmu sebagai cahaya yang menerangi jiwa. Dalam pandangan mereka, ilmu bukan komoditas; ia adalah amanah. Ia tidak diperjualbelikan layaknya barang di pasar, melainkan diwariskan sebagai jalan pembebasan manusia dari kebodohan.
Namun hari ini, lanskap itu perlahan berubah.
Perguruan tinggi yang dahulu dibayangkan sebagai โrumah pencarian kebenaranโ semakin sering terjebak dalam logika industri. Publikasi ilmiah menjadi mata uang baru. Artikel bukan lagi semata-mata sarana menyebarkan pengetahuan, melainkan tiket untuk naik jabatan, memenuhi akreditasi, mengejar peringkat, dan mempertahankan eksistensi institusi. Dalam situasi seperti ini, ilmu mengalami transformasi yang subtil tetapi mendasar: dari nilai intrinsik menjadi nilai instrumental.
Yang dicari bukan lagi โapa yang benar?โ, melainkan โapa yang terindeks?โ. Yang dipertanyakan bukan lagi โapa manfaatnya bagi masyarakat?โ, melainkan “di jurnal mana diterbitkan?”. Kebenaran perlahan tunduk kepada metrik.
Di titik inilah nestapa dosen bermula.
Dosen tidak hanya dituntut menghasilkan ilmu, tetapi juga membeli akses agar ilmu itu diakui. Sebagian jurnal memungut biaya publikasi yang melampaui kemampuan banyak akademisi. Sebagian lainnya membangun tembok-tembok birokrasi yang membuat ilmu harus antre di gerbang pasar akademik. Maka lahirlah ironi besar: seseorang dapat memiliki gagasan yang brilian, tetapi tetap terpinggirkan karena tidak memiliki sumber daya finansial yang cukup.
Fenomena ini mengingatkan kita pada kritik Karl Marx tentang komodifikasi. Ketika segala sesuatu masuk ke dalam logika pasar, maka nilai-nilai luhur pun perlahan berubah menjadi barang dagangan. Bahkan ilmu pengetahuan yang seharusnya membebaskan manusia dapat kehilangan ruhnya ketika keberhasilannya ditentukan oleh transaksi ekonomi.
Lebih jauh lagi, kondisi ini menghadirkan apa yang oleh Jรผrgen Habermas disebut sebagai kolonisasi dunia kehidupan oleh rasionalitas instrumental. Dunia akademik yang semestinya dibangun atas dialog, pencarian makna, dan produksi pengetahuan, kini semakin dikendalikan oleh angka, indikator, dan target administratif. Yang tersisa sering kali hanyalah aktivitas akademik yang tampak produktif, tetapi kehilangan kedalaman reflektifnya.
Tragedi terbesar bukanlah ketika dosen gagal menerbitkan artikel. Tragedi terbesar adalah ketika dosen mulai kehilangan keyakinan bahwa ilmu memiliki nilai di luar angka kredit dan indeks sitasi. Ketika penelitian dilakukan bukan karena kegelisahan intelektual, melainkan karena tenggat BKD. Ketika publikasi bukan lagi ekspresi pencarian kebenaran, melainkan sekadar syarat administratif.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar lahir bukan dari obsesi terhadap indikator, tetapi dari keberanian berpikir. Para ulama, ilmuwan, dan pemikir besar masa lalu tidak menulis untuk mengejar indeksasi. Mereka menulis karena percaya bahwa ilmu adalah bentuk ibadah, pengabdian, dan warisan bagi generasi mendatang.
Karena itu, persoalan publikasi ilmiah sesungguhnya bukan hanya masalah biaya, jurnal, atau regulasi. Ia adalah persoalan filosofis tentang arah peradaban akademik kita. Apakah universitas masih menjadi ruang pencarian kebenaran, atau telah berubah menjadi pasar tempat ilmu diperjualbelikan? Apakah dosen masih dipandang sebagai intelektual yang merawat nalar publik, atau sekadar pekerja administrasi yang berburu angka-angka kinerja?
Di tengah hiruk-pikuk target publikasi, mungkin sudah saatnya kita kembali mengingat hakikat ilmu itu sendiri. Sebab ketika ilmu hanya dihargai sejauh ia menghasilkan keuntungan, maka yang sedang mengalami krisis bukanlah dosen, melainkan peradaban akademik itu sendiri.
Menatap kesunyianโฆ..ketika seorang dosen duduk sendirian di depan naskah yang telah ditulis dengan penuh kesungguhan, lalu mendapati bahwa jalan menuju publikasi lebih ditentukan oleh biaya daripada kualitas gagasan, ia mungkin hanya mampu mengucapkan satu kalimat yang getir:
โKita mengajarkan idealisme di ruang kuliah, tetapi di lorong-lorong akademik, ilmu sering kali ditimbang bukan dengan kebijaksanaan, namunโฆ…โ Akhirnya menghela nafas Panjangโฆ.โ








