Home / Opini / Diamnya Nalar, Ramainya Konsumsi (Krisis Makna Komunikasi Gen-Z)

Diamnya Nalar, Ramainya Konsumsi (Krisis Makna Komunikasi Gen-Z)

Oleh: Dr. Oknita,. S.Sos.,I,. M.A

Penulis Merupakan Dosen FUAD  Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe

Fenomena yang terjadi,  Gaya hidup hedonisme telah menjadi fenomena sosial yang semakin marak di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa, sebagai respons terhadap dinamika masyarakat modern yang ditandai oleh globalisasi dan kemajuan teknologi informasi. Gaya hidup ini merepresentasikan orientasi hidup yang menempatkan kesenangan, kenikmatan, dan kepuasan materi sebagai tujuan utama eksistensi, yang secara signifikan memengaruhi pola perilaku, nilai, dan kebiasaan individu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mahasiswa, sebagai kelompok sosial yang berada dalam fase transisi antara remaja dan dewasa, menjadi kelompok yang rentan terhadap adopsi gaya hidup hedonis akibat paparan intensif dari media massa, iklan, tekanan kelompok sebaya, serta budaya konsumer yang dipromosikan secara masif oleh industri.

Dalam Perspektif Keilmuan, Secara teoretis, fenomena ini dapat dianalisis melalui berbagai perspektif sosiologis dan filsafat sosial. Chaney mendefinisikan gaya hidup sebagai ekspresi identitas diri melalui pilihan konsumsi, aktivitas, dan minat yang bersifat sosial, sementara Featherstone mengonseptualisasikan hedonisme sebagai orientasi budaya yang mengutamakan pemenuhan hasrat sesaat. Baudrillard, melalui teori masyarakat konsumen, menjelaskan bahwa dalam era kontemporer, objek tidak lagi dikonsumsi berdasarkan nilai gunanya, melainkan berdasarkan nilai tanda (sign value) yang dikandungnya-sebuah mekanisme simbolik di mana mahasiswa mengonsumsi produk tertentu untuk mengonstruksi identitas dan status sosial. Bourdieu melengkapi analisis ini dengan konsep habitus, field, dan capital, yang menjelaskan bahwa gaya hidup hedonis merupakan produk dari modal ekonomi dan budaya yang dimiliki individu. Sementara itu, Veblen memperkenalkan konsep conspicuous consumption (konsumsi mencolok) untuk menggambarkan fenomena di mana individu mengonsumsi barang-barang mewah sebagai bentuk presentasi diri dan pamer status sosial kepada lingkungan sekitarnya.

Penutup, Fenomena hedonisme mahasiswa sejatinya bukan sekadar gaya hidup, melainkan krisis makna komunikasi di mana konsumsi menjadi bahasa identitas. Generasi Z perlu membangun kesadaran kritis agar tidak terjebak dalam ilusi nilai tanda yang perlahan namun pasti menggerus nalar dan substansi diri secara nyata di tengah era digital. Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan