Home / Dakwah / Lelah Mengejar Dunia; Lupa Cara Pulang Kepada Nya

Lelah Mengejar Dunia; Lupa Cara Pulang Kepada Nya

Oleh; Usman Ahmad. S.Pd.I

Penulis Merupakan Da’i  & Kepala Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kota Lhokseumawe

 

Gambaran Fenomena

Dapat kita nyaksikan, masyarakat kontemporer sering kali terjebak dalam siklus materialisme yang menuntut pencapaian duniawi tanpa henti. Persoalan ini secara psikologis dikenal sebagai hedonic treadmill, di mana individu terus mengejar kepuasan eksternal namun tidak pernah mencapai kesejahteraan subjektif yang berkelanjutan. Kajian dalam psikologi positif menunjukkan bahwa orientasi pada tujuan ekstrinsik, seperti kekayaan dan status, berkorelasi positif dengan tingkat kecemasan dan depresi.

Di sisi lain, terjadi penurunan signifikan dalam praktik spiritualitas di tengah masyarakat modern yang semakin sekuler. Ketiadaan koneksi transenden ini menciptakan apa yang disebut Viktor Frankl sebagai existential vacuum, sebuah kekosongan makna yang memicu kelelahan kronis dan krisis identitas. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis dampak psikologis dari pengejaran duniawi yang berlebihan dan menguraikan pentingnya reintegrasi spiritual sebagai mekanisme koping yang esensial bagi kesehatan mental. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat diukur secara mutlak melalui indikator ekonomi semata.

Pengejaran tujuan duniawi secara terus menerus mengaktifkan respons stres kronis dalam sistem saraf otonom. Kondisi ini meningkatkan beban stres, yang pada akhirnya bermanifestasi sebagai kelelahan fisik dan emosional yang berlebihan. Literatur neurosains menunjukkan bahwa dominasi aktivitas pada korteks prefrontal (Bagian terdepan dalam otak) yang berfokus pada perencanaan material sering kali menekan aktivitas sistem default mode network yang terkait dengan refleksi diri dan makna eksistensial. Akibatnya, individu mengalami disonansi kognitif; mereka merasa lelah meskipun secara fisik tidak melakukan pekerjaan berat. Hal ini menunjukkan bahwa otak manusia tidak dirancang untuk terus menerus berada dalam mode akumulasi tanpa jeda reflektif. Ketika sistem reward di otak terus menerus distimulasi oleh pencapaian duniawi, terjadi desensitisasi yang membuat individu selalu membutuhkan dorongan eksternal yang lebih besar.

Idealita Masyarakat Kekinian

Fenomena lupa cara pulang merepresentasikan alienasi spiritual yang mendalam. Dalam kerangka psikologi agama, keterputusan dari transendensi menghilangkan mekanisme regulasi emosi yang paling fundamental. Riset empiris membuktikan bahwa individu dengan tingkat spiritualitas yang rendah cenderung memiliki resiliensi yang rapuh dalam menghadapi Kesulitan kehidupan. Mereka mengandalkan regulasi emosi eksternal, yang bersifat fluktuatif dan tidak stabil. Sebaliknya, reintegrasi spiritual atau kembali kepada Sang Pencipta menawarkan kerangka makna yang penuh gagasan (koheren).

Praktik spiritual seperti do’a dan meditasi religius terbukti secara klinis mampu menurunkan kadar kortisol (hormon Steroid), meningkatkan aktivasi gelombang alfa di otak, dan memperkuat konektivitas neural di area yang terkait dengan empati dan regulasi diri. Dengan demikian, spiritualitas bukan sekadar ajaran, melainkan kebutuhan psikobiologis yang mendasar. Ketika individu menyadari bahwa pencapaian duniawi bersifat fana, mereka dapat mengalihkan motivasi dari orientasi ekstrinsik menuju intrinsik transendental. Pergeseran paradigma ini secara signifikan menurunkan tingkat stres dan meningkatkan subjective kebahagian.

Penutup

Kelelahan kronis yang dialami masyarakat modern bukanlah sekadar akibat dari beban fisik, melainkan manifestasi dari krisis makna akibat materialisme dan diskoneksi spiritual. Pengejaran dunia yang tidak terkendali secara empiris terbukti merusak kesehatan psikologis dan neurobiologis. Oleh karena itu, reintegrasi spiritual atau kembali kepada Nya merupakan intervensi yang esensial. Mengingat dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta bukan hanya berfungsi sebagai ritual teologis, melainkan sebagai strategi koping adaptif yang memulihkan homeostasis psikologis. Kesejahteraan sejati hanya dapat dicapai ketika individu menyeimbangkan upaya duniawi dengan fondasi spiritual yang kokoh, sehingga mereka tidak lagi terjebak dalam kelelahan eksistensial yang menghancurkan, serta menyeimbangi antara perkataan dan perbutan tidak hanya sebatas retorika belaka.

Tinggalkan Balasan