Home / Tadabbur / Obsesi Semu dan Amnesia Akhirat

Obsesi Semu dan Amnesia Akhirat

Oleh; Usman Ahmad. S.Pd.I

Penulis Merupakan Da’i  & Kepala Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kota Lhokseumawe

Dalam situasi yang hiruk-pikuk peradaban modern yang dijejali oleh notifikasi media sosial, pamer kemewahan (flexing), dan obsesi terhadap akumulasi materi, manusia kontemporer tampaknya sedang mengalami sebuah patologi spiritual yang serius (amnesia) akhirat. Tanpa kita sadari  seolah-olah telah kehilangan ingatan akan tujuan eksistensial yang paling fundamental, digantikan oleh obsesi terhadap hal-hal yang semu, sementara, yang akhirnya menipu.

Obsesi Semu Dari Takatsur hingga Flexing Digital

Al-Qur’an, sebagai kitab petunjuk kita, telah memetakan anatomi obsesi manusia dengan presisi yang menakjubkan. QS. Al-Hadid: 20, kehidupan dunia dideskripsikan melalui lima kategori yang saling berkelindan: la’ib (permainan), lahw (senda gurau), zinah (perhiasan), takatsur (bermegah-megahan), dan perlombaan dalam harta serta keturunan. Kelima aspek  ini bukanlah sekadar gambaran teologis, melainkan diagnosis sosiologis terhadap penyakit kronis peradaban manusia di dunia.

Bila kita renungkan dalam perspektif dakwah  Takatsur-berlomba-lomba dalam banyak harta dan keturunan-menemukan manifestasi paling parahnya di era digital saat ini. Jika dahulu manusia berlomba membangun rumah mewah  dan menumpuk emas, kini mereka berlomba mengumpulkan followers, likes, dan validasi semu di ruang siber. Fenomena flexing di media sosial adalah bentuk modern dari takatsur, di mana manusia tidak hanya berlomba dalam kepemilikan materi, tetapi juga dalam pertukaran simbol status yang pada hakikatnya sama kosongnya dengan “permainan dan senda gurau” yang digambarkan Al-Qur’an. Bila fenomena ini tidak mampu kita kendalikan kepada jalan yang ma’ruf.  Imam Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, menegaskan bahwa dunia itu cepat berlalu (fanī), sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal (baqī). Namun, mayoritas masyarakat modern seolah menderita amnesia eskatologis-sebuah kondisi di mana kesadaran akan kekekalan akhirat terhapus dari memori kolektif, digantikan oleh ilusi bahwa apa yang kita miliki hari ini akan abadi selamanya.

Realitas empiris membuktikan kebenaran diagnosis ini. Harta yang dikumpulkan dengan keringat dan air mata akhirnya ditinggalkan. Rumah megah yang dibangun dengan kebanggaan akhirnya diwariskan-seringkali menjadi sumber sengketa. Jabatan yang diperebutkan dengan intrik akhirnya berakhir dengan pensiun yang sunyi. Kecantikan yang dipuja dengan obsesi akhirnya memudar dimakan usia. Kekuatan fisik yang disombongkan akhirnya melemah oleh penyakit dan waktu. Pada akhirnya, setiap manusia kembali kepada Allah dalam keadaan telanjang, tanpa membawa apapun kecuali kain kafan dan lembaran amal, yang kita kerjakan selama di dunia.

Kondisi Umat Islam Saat Ini

Zaman sekarang, kita menyaksikan sebuah tragedi besar: manusia berlomba-lomba mengejar dunia dengan intensitas yang sama seperti mereka yang tidak beriman. Kesuksesan diukur dengan kendaraan mewah, rumah besar, jabatan tinggi, dan popularitas di media sosial. Tidak sedikit orang yang rela meninggalkan shalat demi pekerjaan, mengabaikan keluarga demi mengejar materi, bahkan melupakan akhirat demi kesenangan sesaat.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim). Maknanya bukanlah  seorang mukmin tidak boleh menikmati nikmat dunia, tetapi ia harus tetap terikat oleh aturan Allah. Ia menjaga halal dan haram, menjaga shalat, menjaga amanah, dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya. Dunia adalah “penjara” dalam arti bahwa seorang mukmin dibatasi oleh nilai-nilai ilahiah, sementara orang kafir “bebas” menikmati dunia tanpa batas moral-sebuah kebebasan.

Empat Pilar Spiritual

Agar tidak tertipu oleh ilusi dunia, diperlukan empat bekal spiritual yang kokoh: Pertama, menjaga shalat lima waktu. Shalat adalah mindfulness spiritual tertinggi-penghubung antara hamba dengan Rabb-nya, dan benteng dari kelalaian. Dalam shalat, seorang mukmin secara rutin “me-reset” orientasi hidupnya, mengingat kembali bahwa ada tujuan yang lebih besar daripada sekadar akumulasi duniawi. Kedua, memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur”an. Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Dzikir adalah mekanisme psikospiritual yang mengembalikan individu pada pusat eksistensinya, memutus siklus kecemasan dan obsesi terhadap dunia. Ketiga, memperbanyak sedekah. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah adalah investasi abadi yang akan ditemui di akhirat. Sedekah mendekonstruksi sifat materialistik dan membangun kesempurnaan sosial melalui perilaku prososial. Keempat, memperbaiki niat dalam setiap aktivitas. Bekerja karena Allah, mendidik anak karena Allah, mencari nafkah karena Allah-sehingga seluruh aktivitas dunia bertransformasi menjadi ibadah. Inilah integrasi sakral dan profan yang menjadi esensi Islam sebagai way of life.

Penutup

Jadikan dunia ini sebagai jalan menuju ridha Allah, bukan sebagai tujuan akhir kehidupan. Karena sesungguhnya yang akan menemani kita di alam kubur bukanlah harta, bukan jabatan, dan bukan kedudukan, melainkan iman dan amal shaleh. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiga perkara mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali, sedangkan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tinggalkan Balasan