Fenomena komodifikasi simbol komunikasi modern menunjukkan pergeseran nilai, di mana atribut sakral direduksi menjadi instrumen akumulasi modal sosial. Oknum tertentu secara sistematis mengeksploitasi semiotika keagamaan melalui atribut visual, dan ritualitas yang dipertontonkan bukan untuk esensi spiritual, tapi sebagai strategi pencitraan guna meraup perhatian publik. Dalam pandangan sosiologi media, praktik ini merupakan bentuk simulacra yang mengaburkan batas antara kesalehan hakiki dan performativitas transaksional. Akibatnya, terjadi kerusakan makna di mana simbol komunikasi yang seharusnya merepresentasikan nilai transenden, kini terdistorsi menjadi komoditas pasar yang diperdagangkan demi trend pengaruh. Maka, penting literasi kritis terhadap diskursus keagamaan di ruang publik menjadi imperatif mutlak untuk membongkar manipulasi simbolik ini secara objektif, di era digital kontemporer yang sempurna ini.
Kesenjangan kontemporer menunjukkan adanya manipulasi semiotik di mana simbol agama direduksi menjadi instrumen performativitas untuk menutupi degradasi moral di ruang pribadi. Menggunakan perspektif dramaturgi Erving Goffman, oknum tertentu secara sistematis mengonstruksi panggung depan yang memproyeksikan citra figur ‘alim, bijak, dan penuh kebajikan. Namun, realitas panggung belakang mereka justru dipenuhi oleh praktik transaksional dan munafiq struktural yang sangat kontradiksi. Simbol sakral tidak lagi berfungsi sebagai representasi spiritualitas nyata, melainkan berubah menjadi stempel legitimasi untuk menyembunyikan ketidakberesan etis. Komodifikasi atribut agama ini menciptakan ilusi kesalehan yang mengecoh masyarakat, sekaligus mengaburkan batas antara integritas moral dan oportunisme politik. Oleh karena itu, literasi kritis terhadap gagasan keagamaan di ruang publik menjadi imperatif mutlak untuk membongkar simulakra kesalehan ini secara objektif.
Perampasan simbol agama untuk komodifikasi produk demi akumulasi materi merupakan pelanggaran etis berat. Dalam perspektif Komunikasi Islam, pesan yang disampaikan dengan berlindung di balik topeng religiusitas tidak hanya kehilangan otoritas moral, tetapi juga secara fundamental gagal mentransformasi pesan umat menuju kebajikan. Komodifikasi sakralitas ini mereduksi nilai transendental menjadi sekadar alat transaksional yang merusak esensi dakwah. Tindakan manipulasi semiotik ini jelas memancing murka Ilahi, karena menistakan kesucian ajaran demi kepentingan pragmatis. Mengapa para komunikator dengan sadar mengabaikan prinsip etika ini demi mengejar keuntungan finansial dan popularitas duniawi yang fana? Padahal, integritas komunikasi seharusnya berlandaskan pada kejujuran dan keikhlasan, bukan pada eksploitasi keyakinan. Mengorbankan nilai spiritual untuk keuntungan materi adalah bentuk degradasi moral yang akan menghancurkan kepercayaan publik dan membawa kerugian eskatologi yang jauh lebih besar di masa depan bagi mereka yang dengan sengaja melupakannya dalam setiap langkah profesi mereka di dunia yang sementara ini secara sistematis mengorbankan nilai-nilai Tuhan demi ambisi materi dan kekuasaan.
Oleh; Dr. Muhammad Saleh
Penulis Merupakan Dosen Fakultas Dakwah UIN-SUNA Lhokseumawe









