Home / Pendidikan / Komunikasi Personal yang Tak Tersampaikan Bisa Menjadi “Sadis”

Komunikasi Personal yang Tak Tersampaikan Bisa Menjadi “Sadis”

Oleh; Dr. Maria Ulfa Batoebara,MSi

Penulis Merupakan Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Dharmawangsa Sumatera Utara

Komunikasi personal adalah ruang paling intim dalam kehidupan manusia. Di dalamnya ada perasaan, harapan, kekecewaan, cinta, dan luka. Namun ketika komunikasi itu tidak tersampaikan—dipendam, diabaikan, atau sengaja ditahan ia bisa berubah menjadi sesuatu yang “sadis”, bukan secara fisik, tetapi secara psikologis dan emosional. Hal ini terjadi pada kasus mahasiswa dan mahasiswi UIN Sultan Syarif Kasim ( Suska)  Pekan Baru Riau kemaren. Ketika seseorang tidak mampu atau tidak diberi ruang untuk menyampaikan isi hatinya, terjadi penumpukan emosi. Perasaan yang seharusnya tersalur melalui dialog justru berubah menjadi prasangka, kemarahan terpendam, bahkan kebencian. Diam yang berkepanjangan sering kali lebih menyakitkan daripada pertengkaran terbuka. Dalam konteks ini, “kesadisan” muncul dalam bentuk sikap pasif-agresif, sindiran, pengabaian, atau ledakan emosi yang tidak proporsional.

Lebih jauh, komunikasi yang tidak tersampaikan dapat merusak relasi. Dalam hubungan keluarga, persahabatan, maupun percintaan, miskomunikasi yang dibiarkan berlarut-larut menciptakan jarak emosional. Seseorang bisa merasa tidak dihargai, tidak didengar, atau tidak dianggap penting. Perasaan-perasaan inilah yang secara perlahan melukai psikologis individu.

Dari perspektif filsafat komunikasi, manusia adalah makhluk dialogis. Eksistensi kita ditegaskan melalui relasi dan pertukaran makna. Ketika komunikasi terhambat, maka makna menjadi kabur dan relasi kehilangan fondasi etisnya. Tidak tersampaikannya pesan bukan sekadar kegagalan teknis, tetapi juga kegagalan kemanusiaan dalam membangun pengertian. Namun demikian, komunikasi yang tak tersampaikan tidak selalu lahir dari niat buruk. Kadang ia muncul dari ketakutan, trauma, atau ketidakmampuan mengelola emosi. Oleh karena itu, solusi bukanlah menyalahkan, melainkan membangun keberanian untuk berdialog dan menciptakan ruang aman untuk berbicara.

Pada akhirnya, komunikasi personal yang sehat adalah tentang kejujuran, empati, dan kesediaan untuk mendengar. Karena ketika kata-kata tidak diberi tempat, perasaan akan mencari jalan lain—dan sering kali jalannya lebih menyakitkan.

Tinggalkan Balasan