Oleh; Syahira Azzahra
Penulis Merupakan Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam UIN SUNA Lhokseumawe
Idul Fitri dan idul adha merupakan dua hari raya yang sangat di tunggu oleh umat muslim setiap tahunnya. Idul fitri dan Idul adha memiliki dua perbedaan di dalam nya. Keduanya seperti dua cahaya yang sama-sama sama bersinar, tapi dengan warna yang berbeda beda.
Idul fitri datang setelah kita akhirnya sudah berhasil melewati berbagai rintanga. Idul fitri juga disebut sebagai hari kemenangan. Karena umat muslim sudah berhasil menyelesaikan ibadah puasa selama sebulan penuh. Puasa pun bukan hanya sekedar untuk menahan lapar atau pun harus, tapi juga dengan emosi dan hawa nafsu. Kemenangan ini bukan seperti memenangkan perlombaan, tapi ini adalah kemenangan gimana kita telah berhasil melawan ego, kebiasaan buruk dan menjaga diri selama sebulan. Itu sebabnya di hari itu ada banyak senyum yang lahir dari kelegaan. Ada tangan yang saling berjabat untuk maaf-maaf an. Suasana rumah menjadi lebih hidup dari biasanya.
Idul adha hadir dengan cara yang berbeda. Tidak terlalu ramai dan juga tidak terlalu di sibuk kan dengan perjalanan pulang kampung. Tetapi di balik itu semua, Idul adha memiliki sebuah kisah yang penuh makna, bahkan di ceritakan di dalam Al-qur’an. Kisah ini menceritakan tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, tentang bagaimana cinta di uji dalam bentuk yang tidak sederhana. Sebuah pengorbanan yang tidak hanya sekedar menyembelih. Tapi sebenarnya mengajarkan kita tentang mengorbankan sesuatu yang sangat kita cintai demi sesuatu yang lebih besar.
Dari situ, Idul Adha menjadi lebih sunyi, bukan karena ia tidak penting, tetapi karena maknanya bergerak lebih dalam. Ia mengajarkan tentang keikhlasan yang tidak selalu terlihat meriah, tentang memberi tanpa banyak suara, tentang kepedulian yang mengalir diam-diam kepada mereka yang membutuhkan melalui daging kurban yang dibagikan.
Jika Idul Fitri terasa seperti cahaya yang menyebar ke luar, maka Idul Adha lebih seperti cahaya yang masuk ke dalam diri manusia, mengajak untuk merenung dan memahami arti dari pengorbanan itu sendiri. Keduanya tidak saling lebih tinggi atau lebih rendah, tetapi berjalan berdampingan, membawa manusia pada dua pelajaran yang berbeda namun saling melengkapi.









