Home / Pendidikan / Dampak Patriaki Terhadap Kekerasan Psikologis Perempuan Dalam Rumah Tangga

Dampak Patriaki Terhadap Kekerasan Psikologis Perempuan Dalam Rumah Tangga

Oleh; Nisaul Afdila

Penulis Merupakan Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam UIN SUNA Lhokseumawe

Budaya patriarki merupakan sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang dominan dalam berbagai aspek kehidupan, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Dalam sistem ini, perempuan sering kali diposisikan sebagai pihak yang lebih rendah dan diharapkan untuk patuh. Pola pikir seperti ini telah mengakar kuat dan diwariskan secara turun-temurun, sehingga dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh sebagian masyarakat.

Dari budaya patriarki tersebut kemudian muncul ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam rumah tangga. Ketimpangan ini dapat memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan psikologis. Bentuk kekerasan psikologis sering kali tidak disadari, seperti penghinaan, kontrol berlebihan, dan ancaman, hingga merendahkan pasangan. Karena tidak meninggalkan luka fisik, kekerasan ini kerap dianggap sepele, padahal dampaknya sangat serius.

Di Indonesia, budaya patriarki masih menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka kekerasan terhadap perempuan. Laki-laki sering dianggap sebagai pemegang kekuasaan dalam keluarga, sedangkan perempuan dituntut untuk selalu patuh. Kondisi ini membuat banyak perempuan menerima perlakuan tidak adil sebagai hal yang normal. Dan bahkan, tidak sedikit korban yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan, karena sudah terbiasa dengan pola relasi tersebut. Selain itu, patriarki juga membatasi peran perempuan, baik dalam rumah tangga maupun di ruang publik. Akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang tidak merata menyebabkan banyak perempuan bergantung secara ekonomi pada laki-laki. Ketergantungan ini membuat mereka sulit keluar dari hubungan yang tidak sehat, termasuk yang mengandung kekerasan. Rasa takut kehilangan dukungan finansial sering kali menjadi alasan utama perempuan bertahan.

Dampak psikologis dari kekerasan ini sangat besar. Perempuan dapat mengalami kecemasan, rasa takut, tekanan batin, hingga kehilangan kepercayaan diri. Dalam beberapa kasus, korban bahkan menyalahkan diri sendiri atas kekerasan yang dialaminya. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi trauma dan depresi yang serius. Sebagai mahasiswa, saya melihat bahwa permasalahan ini tidak bisa dianggap sepele. Diperlukan kesadaran bersama untuk mengubah pola pikir yang masih bias gender. Hubungan dalam rumah tangga seharusnya dibangun atas dasar kesetaraan, bukan dominasi. Perempuan juga perlu diberdayakan agar memiliki kemandirian, baik secara ekonomi maupun psikologis.

Dengan demikian, budaya patriarki memiliki dampak besar terhadap munculnya kekerasan psikologis dalam rumah tangga. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih adil dan mendukung, agar perempuan dapat hidup dengan aman, sehat, dan sejahtera. nisaulafdila@gmail.com

Tinggalkan Balasan