Home / Pendidikan / Fenomena Kecanduan Menonton Drama Korea Di kalangan Mahasiswa Indonesia

Fenomena Kecanduan Menonton Drama Korea Di kalangan Mahasiswa Indonesia

Oleh; Rianggi Febrina

Penulis Merupakan Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam UIN SUNA Lhokseumawe

Fenomena kecanduan menonton drama Korea (K-Drama) semakin marak di kalangan mahasiswa Indonesia. Artikel ini mengkaji faktor-faktor pendorong kecanduan tersebut, dampak psikologis dan akademis yang ditimbulkan, serta upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Dengan menggunakan pendekatan analisis literatur, ditemukan bahwa kecanduan K-Drama dipicu oleh elemen naratif yang kuat, konten emosional, serta kemudahan akses melalui platform digital. Dampaknya mencakup gangguan pola tidur, penurunan produktivitas akademik, dan isolasi sosial.

Gelombang budaya Korea atau Korean Wave (Hallyu) telah merambah hamper seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Salah satu elemen dominan dari fenomena ini adalah drama Korea (K-Drama) yang kini dapat diakses dengan mudah melalui berbagai platform streaming digital seperti Netflix, Viu, dan WeTV. Kemudahan akses tersebut, ditambah dengan kualitas produksi yang tinggi dan narasi yang memikat, menciptakan kondisi yang berpotensi mengarah pada perilaku menonton kompulsif, khususnya di kalangan mahasiswa sebagai kelompok demografis yang rentan. Perilaku menonton secara berlebihan atau yang dikenal sebagai binge-watchingbukan sekadar hobi semata, melainkan telah berkembang menjadi masalah psikologis yang perlu diteliti secara ilmiah. Berbagai penelitian menunjukkan adanya korelasi signifikan antara intensitas konsumsi konten hiburan digital dengan penurunan kualitas tidur, meningkatnya tingkat stres, serta berkurangnya konsentrasi dalam kegiatan akademik.

Terdapat beberapa faktor yang secara sistematis mendorong terbentuknya perilaku adiktif dalam menonton K-Drama. Pertama, aspek naratif berupa cliffhanger atau akhir episode yang menggantung menciptakan dorongan psikologis kuat bagi penonton untuk segera melanjutkan ke episode berikutnya. Mekanisme ini secara langsung mengaktifkan sistem reward dopaminergik dalam otak, menghasilkan sensasi kepuasan yang bersifat sementara namun berulang. Kedua, konten emosional K-Drama yang sarat dengan tema percintaan, pengorbanan, dan konflik keluarga mampu membangkitkan respons empati mendalam dari penonton. Kondisi ini mendorong terjadinya parasocial relationship, yakni hubungan emosional sepihak antara penonton dan karakter fiksi dalam drama tersebut.

Ketiga, algoritma platform streaming yang secara otomatis memutar episode selanjutnya semakin memperkuat siklus menonton tanpa henti. Dampak negatif yang paling signifikan dirasakan oleh mahasiswa adalah penurunan performa akademik. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, mengerjakan tugas, atau beristirahat, tergeser oleh aktivitas menonton yang tidak terkontrol.

Selain itu, paparan terhadap standar kecantikan, gaya hidup, dan hubungan romantis yang diidealisasikan dalam K-Drama berpotensi menimbulkan body image issues serta ketidakpuasan terhadap realitas kehidupan nyata.Kecanduan menonton drama Korea merupakan fenomena psikososial yang tidak dapat diabaikan, terutama mengingat prevalensinya yang tinggi di kalangan mahasiswa.

Pendekatan literasi media yang kritis perlu ditanamkan sejak dini agar individu mampu mengonsumsi konten hiburan secara bijak dan proporsional. Manajemen waktu yang baik serta kesadaran diri terhadap pola konsumsi digital merupakan kunci utama dalam mencegah dampak negatif dari perilaku binge-watching terhadap kualitas hidup dan prestasi akademik.

Tinggalkan Balasan