Home / Tadabbur / Kesadaran akan adanya RUQOBA/ CCTV Allah

Kesadaran akan adanya RUQOBA/ CCTV Allah

Oleh; Syarif Ja’far Shadiq

Penulis Merupakan penggagas Komunitas Lintas Keyakinan dengan nama komunitas Agama Cinta, juga Konsultan Pendidikan Independen yang berfokus pada perbaikan mutu afektif dan moderasi beragama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْأَوَّلِ قَبْلَ الْإِنْشَاءِ وَ الْإِحْيَاءِ

وَ الْآخِرِ بَعْدَ فَنَاءِ الْأَشْيَاءِ الْعَلِيْمِ الَّذِيْ لاَ يَنْسَى مَنْ ذَكَرَهُ
، وَ لاَ يَنْقُصُ مَنْ شَكَرَهُ وَ لاَ يَخِيْبُ مَنْ دَعَاهُ

وَ لاَ يَقْطَعُ رَجَاءَ مَنْ رَجَاهُ

,اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أُشْهِدُكَ وَ كَفَى بِكَ شَهِيْدًا وَ أُشْهِدُ جَمِيْعَ مَلاَئِكَتِكَ وَ سُكَّانَ سَمَاوَاتِكَ وَ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَ مَنْ بَعَثْتَ مِنْ أَنْبِيَائِكَ وَ رُسُلِكَ وَ أَنْشَأْتَ مِنْ أَصْنَافِ خَلْقِكَ أَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ وَ لاَ عَدِيلَ وَ لا خُلْفَ لِقَوْلِكَ وَ لا تَبْدِيْلَ

وَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ عَبْدُكَ وَ رَسُوْلُكَ أَدَّى مَا حَمَّلْتَهُ إِلَى الْعِبَادِ وَ جَاهَدَ فِي اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ حَقَّ الْجِهَادِ وَ أَنَّهُ بَشَّرَ بِمَا هُوَ حَقٌّ مِنَ الثَّوَابِ وَ أَنْذَرَ بِمَا هُوَ صِدْقٌ مِنَ الْعِقَابِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ الْأَوْصِيَاءِ الرَّاضِيْنَ الْمَرْضِيِّيْنَ بِأَفْضَلِ صَلَوَاتِكَ وَ بَارِكْ عَلَيْهِمْ بِأَفْضَلِ بَرَكَاتِكَ، وَ السَّلاَمُ عَلَيْهِمْ وَ عَلَى أَرْوَاحِهِمْ وَ أَجْسَادِهِمْ وَ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ [آل عمران: 102

Jamaah sidang Jum’ah yang dirahmati Allah

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah, atas Rahmat serta keridhoanNya kita masih dapat nikmat iman semoga hingga meraih keluhuran ma’rifat dan kedalaman hakikat, juga nikmat Islam, semoga tetap semangat menjalankan syariat dalam tata yang penuh khidmat, dan pula nikmat Ihsan semoga tetap muroqabah atas segala niat, ucapan dan tindakan kita hingga tiba akhir masa.

Seluruh agama-agama memiliki fondasi dasar utama, yakni, keyakinan, kebaktian dan kebaikan Budi pekerti buah dari hasil keduanya. Dalam Islam , kebaikan, keindahan, Budi pekerti atau akhlaq dari kedalaman imam yang benar, ketulusan berayariat , melahirkan Ihsan berupa kebeningan akalbudi dan Budi pekerti atau tasawuf.
Definisi Ihsan dalam hadits disampaikan oleh Rasulullah Saw :
أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإن الله يراك
Sebuah kesadaran dalam gerak penghambaan kita seakan2 kita menyaksikan kehadiranNya, jika tak mampu menghadirkan rasa penyaksianNya, maka hadirkanlah kesadaran bahwa Allah menyaksikan kita.

sikap muroqobah atau self control , mengawasi semua gerak niat, ucapan dan tindakan atas dasar kesadaran bahwa kita senantiasa dikontrol, diawasi, atau direkam jejak oleh Raqib dan Atid , adalah buah dari pendalaman ma’rifat dan hakikat pada keimanan, serta ketaatan dalam syariat pada keislaman.
Ketika hal itu semua tak bisa kita hadirkan, atau ketika iman dan Islam kita tidak membuahkan Ihsan, maka prilaku yang negatif akan lama-lama mengikis nilai keimanan serta keislaman kita.
Ketika niat tidak kita kontrol, maka ucapan dan tindakan kita merusak nilai keimanan dan keislaman kita, dan efeknya adalah ketidak baikan dalam interaksi intra persona serta interaksi dengan segenap manifestasiNya.

Socrates, seorang filsuf Yunani, mengajarkan apa yang disebut triple filter test sebelum seseorang berbicara. Ia bertanya: Apakah yang akan kau ucapkan itu benar? Apakah itu baik? Apakah itu bermanfaat? Jika tidak lolos tiga saringan ini, maka lebih baik diam.

Arthur Schopenhauer, filsuf Jerman, pernah berkata: “Diam adalah orang bijak yang paling aman.” Ia melihat bahwa manusia sering merusak dirinya sendiri karena terlalu banyak bicara tanpa kendali.

Marcus Aurelius, seorang kaisar sekaligus filsuf Stoik, menulis dalam catatannya: “Jangan bicara tentang orang lain kecuali untuk kebaikan.” Bagi kaum Stoik, lisan yang liar adalah tanda bahwa seseorang telah kalah melawan hawa nafsunya sendiri.

Jadi, menjaga lisan bukanlah ajaran agama saja. Akal sehat manusia dari berbagai bangsa pun sampai pada kesimpulan yang sama.

2. Para ulama dan filsuf Muslim lebih tegas lagi

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata dalam Nahjul Balaghah:
“Lisanmu adalah kudamu. Jika kau jaga, ia akan menjagamu. Jika kau lepaskan, ia akan mencelakakanmu.”

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menghitung ada 20 bahaya lisan: dusta, ghibah, fitnah, sumpah palsu, debat kusir, dan lainnya. Obatnya adalah samt — diam yang disengaja. Beliau menyebut diam sebagai hiasan orang berilmu dan penutup kebodohan orang bodoh.

Ibn Miskawayh memasukkan menjaga lisan sebagai bagian dari akhlak iffah — menjaga diri. Orang yang tidak bisa menahan lidahnya, biasanya juga tidak bisa menahan syahwatnya.

3. Rasulullah saw telah memperingatkan kita 1400 tahun yang lalu

Diriwayatkan dalam Biharul Anwar, jilid 71 hal. 78, hadits no. 10, Rasulullah saw bersabda:

“إِنَّ عَلَى كُلِّ لِسَانِ الْإِنْسَانِ رَقِيبًا، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ الْعَبْدُ وَلْيَنْظُرْ مَاذَا يَقُولُ”

“Sesungguhnya pada setiap lisan manusia ada seorang pengawas. Maka hendaklah seorang hamba bertakwa kepada Allah dan memperhatikan apa yang ia ucapkan.”

Lihatlah di sekitar kita. Berapa banyak rumah tangga hancur karena satu ucapan kasar? Berapa banyak persahabatan putus karena satu gosip? Berapa banyak reputasi runtuh karena satu komentar di media sosial yang ditulis dalam keadaan emosi?

Lisan itu kecil, tapi seperti percikan api. Jika tidak dijaga, ia bisa membakar rumah, membakar kehormatan, bahkan membakar akhirat seseorang.

Hadirin Jama’ah Shalat Jumat yang dirahmati Allah.

Kelemahan kita saat kurang muroqobah atau self kontrol pada diri sendiri, adalah karena kita terlalu sibuk mengawasi kesalahan orang lain, seakan kita pemegang kunci surga orang2 selain diri kita. Padahal tidak semua orang bersalah karena memang benar2 punya niat jahat, ada karena kondisi dan ada juga karena ujian hidup serta ada juga karena jebakan fitnah atau dilema buah simalakama.
Sedangkan kesalahan kita, kitalah yang tahu dan harus segera siap mempertanggung jawabkannya kelak.

Jama’ah Shalat Jumat rahimakumullah.

Jika untuk mengetahui ilmu dan teori apa itu iman, bagaimana itu berislam, cukuplah kita mencari ulama yang memiliki kapabilitas keilmuan dalam dua pondasi agama tersebut, namun untuk mampu meraih buah dari keimanan dan keislaman , berupa pendalaman muroqabah , mujahadah, maka butuh metodologi atau thoriqoh yang gurunya atau mursyidnya telah memang terbukti keihsanannya.
Sebab betapa pentingnya kita bisa muroqobah denga keyakinan bahwa CCTV Allah ada di setiap dimensi ruang dan waktu, bahkan Selain Allah sang Maha Ar Raqiib,
Sebagaimana firmanNya dalam surat Anfal ayat 24 :

واعلموا أن الله يحول بين المرء وقلبه

“Ketahuilah bahwa Allah berada antara seseorang dan hatinya”.
dalam surat Al a’laa ayat 14 ,

ألم يعلم بأن الله يرى

Tidakkah orang itu tahu bahwa Allah selalu memperhatikan.

Dan ingatlah bahwa ;
Rasullah pun juga menjadi syahiida, menyaksikan kita ,
Allah berfirman :
وقل اعملوا فسير الله أعمالكم و الرسول والمؤمنون
Katakanlah wahai Nabi , ber amallah kalian semua maka Allah , Rasul serta orang2 beriman akan menyaksikan”

begitu juga para jejiwa suci dari para imam ahlul Bayt Nabi saw, sebagaimana firman Allah :
يوم ندعو كل أناس بإمامهم
Pada hari Kami panggil tiap kelompok manusia dengan imam-imam mereka.
Jadi jelas para imam2 suci itu pun saat ini menyaksikan apa yang kita lakukan sebab mereka akan menjadi saksi kita,
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah, yang sangat kita perlu hadirkan kesadaran bahwa bahkan anggota badan kita pun adalah para ruqoba atau CCTV yang Allah perintahkan merekam dan mengawasi kita.
Allah berfirman:

“الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” [QS. Yasin: 65]

Di setiap hari Jumat, antara dua khutbah, mari kita berdoa semoga kita bisa senantiasa menghadirkan kesadaran untuk muroqobah atas diri sendiri, menyibukkan diri untuk mengawasi kesalahan dan dosa sendiri daripada mengawasi kesalahan orang lain, sehingga kita tidak salah niat, salah ucap dan salah langkah. aamin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْنَ، إخواننا المجاهدين فى إيران وفالسطين ،وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ اٰمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. اللهم أذهب عنا الوهن وعن أجيالنا الكسلان .

رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

أَقِمِ الصَّلَاةَ

Tinggalkan Balasan