Oleh; Syarif Ja’far Shadiq
Penulis Merupakan penggagas Komunitas Lintas Keyakinan dengan nama komunitas Agama Cinta, juga Konsultan Pendidikan Independen yang berfokus pada perbaikan mutu afektif dan moderasi beragama
Ketika agama memberikan warning/wanti-wanti tentang hari kehausan di alam mashyar, kita mungkin masih susah membayangkannya hingga susah kita jadikan kewaspadaan dalam hidup, padahal di setiap orang yang sekarat kita saksikan ia kehausan. Ketika sejarah bercerita tentang bayi-bayi dan para wanita keluarga Nabi SAW yang kehausan di Padang Karbala, dan membayangkan Abu Fadhal Abbas yang berhasil mencapai sungai Eufrat yang diembargo pasukan Yazid kapitalis zaman itu.
Tapi tak jadi menyauh air untuk minum karena ingat imam dan keluarganya yang masih bayi masih sangat kehausan, beliau segera mengisi girbah dan meloncat ke kudanya lalu membabat para tentara durjana yang menghalanginya, namun tangan kirinya ditebas sehingga girbah hampir tumpah, lalu diraih tangan kanannya yang kemudian bernasib sama ditebas juga, akhirnya dengan kedua tangan yang buntung , girbah digigit dan terus memacu kudanya ke arah kemah keluarga Nabi SAW. Sayang sekali panah tentara Yazid menembus ghirbah hingga ke dadanya, mengalirlah air dari girbah yang bocor, mengalir pula air mata Abu Fadhal Abbas karena tak sempat membawa air sungai itu ke para cucu Nabi Saw.
Jika narasi sejarah ini pun juga tak menggugah, kini di depan mata kita, anak-anak palestina menengadah lidah ke keran yang kering tak lagi menetes, apakah air mata kita menetes merasakan kehausan itu? Jika tidak, bagaimana membayangkan Siti Hajar dan bayinya Ismail bin Ibrahim Alaihimas Salam yang kehausan di lembah ngarai yang gersang?
Dari paparan tentang kebutuhan manusia kepada air secara fisik, ternyata ada kehausan lain bahkan setelah hilang dahaga haus di kerongkongan kita. Kehausan akan kerinduan kepada Yang Maha Dirindu. Maslow membagi kebutuhan dengan bentuk Piramida, ternyata kebutuhan “kampung tengah” alias urusan biologis hanyalah kebutuhan yang sifatnya sama dengan hewan, sedangkan manusia masih ada kehausan yang amat sangat dahaga dalam jiwa, oleh karena itu disadari oleh kalangan filsuf aliran romantisme, bahwa hal yang sifatnya emosio (dicintai dan mencintai, disayang dan menyayangi, empati dan simpati ) adalah hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Gefühl der schlechthinnigen Abhängigkeit ( perasaan ketergantungan mutlak )
Ungkap Friedrich Schleiermacher (1768–1834) tokoh kunci aliran Romantisme Jerman dan Bapak Hermeneutika modern, menarasikan essensi agama yang bukan sekedar dogma hampa dengan fiqih yang ringkih, tapi juga ada rasa kemesraan kepada Sang Maha Mesra. Dan ini yang dikritisi Karl Max bahwa agama adalah candu. Empat Belas abad lalu, Islam sudah bebicara tentang hal ini, Allah tidak hanya meminta kita berpikir, tapi juga merasakan, seperti dalam firmanNya :
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang”
Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ… أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati”
Maka nilai yang terkandung dalam ibadah haji dan 10 hari Dzulhijjah ini adalah bagaikan pesantren dengan kurikulum IPTEK dan Imtaq, baik itu untuk menata akal dengan ilmu, dan menata rasa dengan rindu.
- Tarwiyah: Mengisi Bekal Air Lahir dan Batin
Pada tanggal 8 Dzulhijjah, hari Tarwiyah. Secara lahir, Tarwiyah artinya memberi minum. Dulu para jamaah mengisi qirbah mereka di Mina sebelum berangkat wukuf, karena di Arafah belum ada air. Secara batin, Tarwiyah adalah saat jiwa mengisi bejana hatinya. Tarwiyah Secara etimologis bermakna memuaskan dahaga, karena zaman dahulu tak ada air maka berada di Mina untuk mengisi ghirbah (termos air dari kulit) .
Saat ini, makna tarwiyah harus lebih dalam dari sekedar melepas dahaga pada raga, tapi juga melepas kehausan pada jiwa, di Mina mestinya jama’ah haji merenung bertanya-tanya;” dzikir apa, istigfar seperti apa yang harus kutuangkan pada ghirbah jiwa untuk bekal perjalanan hidup selanjutnya menuju puncak ma’rifah di Padang ‘arafah ?
Allah berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”
Bekal apa yang kita isi? Bukan hanya kurma dan air, tapi taubat, zikr, dan rindu. Maka benar kata Jalaluddin Rumi:
أنا عطشان والعالم صحراء
اسقني شربة من النهر الذي لا ينضب
قبل أن تذهب إلى ساحة اللقاء
املأ قربتك أيها المسافر لئلا تموت في الطريق
“Aku haus, dan dunia adalah gurun. Berilah aku seteguk dari sungai yang tidak pernah kering. Sebelum berangkat ke medan pertemuan, isilah bejanamu wahai musafir, agar tak mati di jalan.”
Jika kita berangkat ke Arafah dengan hati kering, kita akan pingsan sebelum sampai. Arafah: Hari Ma’rifah, Hari Perjumpaan Kemudian pada 9 Dzulhijjah, hari Arafah. Secara lahir, jamaah wukuf di Padang Arafah. Wukuf adalah rukun haji yang paling agung. Rasulullah SAW bersabda:
الْحَجُّ عَرَفَةُ
“Haji itu Arafah”
Syek Syamsuddin As Sumatrani dalam kitab Nur Ad Daqoiq Bab Martabat 7, menulis :
كِتَهُوئِ اُولِهْمُو بَهَوَسَنۡيَ اَسَلْ كَجَادِيْئَن سَكَالِيَ عَالَمْ اِتُ دَرِيْفَدَ لَا تَعَيُّنْ، يَائِتُ مَرْتَبَتْ اَحَدِيَّهْ. دَنْ بَهَوَسَنۡيَ سَگَالَا سَسُوَاتُ اِتُ كَمْبَالِي كَفَدَ-نۡيَ جُوَ، كَرَنَ تِيَادَ يَغْ وُجُوْدْ مِلَائِنْکَنْ اللهْ.
“Ketahuilah bahwa asal kejadian seluruh alam itu dari la ta‘ayyun, yaitu martabat ahadiyyah. Dan sesungguhnya segala sesuatu itu akan kembali kepada-Nya juga, karena tidak ada yang wujud selain Allah.”
Dalam ilmu kebatinan Nusantara ada yang dikenal dengan filsafat acine Urip sak jeroning Urip (sejati hidup dalam kehidupan), Orang Sunda mengingatkan anak cucunya dengan nasehat ulah poho urang teh bakal mulih kajati mulang ka asal ( Jangan lupa kita bakal kembali ke asal keseharian kita ) .
Maka secara batiniyah, sesuai dengan asli kata Arafah berasal dari_ma’rifah yakni ; mengenal. Arafah adalah saat ruh mengenal kembali Asalnya. Saat selubung antara hamba dan Rabb-nya menipis.
Allah berfirman tentang hari itu:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagimu”
Hari itu Allah membanggakan hamba-Nya di hadapan malaikat. Doa hari itu adalah doa yang paling mustajab.
Maka Rumi bersenandung:
اليوم يوم عرفة يا روحي
تنزل عليك الرحمة بلا حدود
إن كنتَ لا تزال تبحث عن الكعبة في الخارج
فلم ترَ الكعبة التي في صدرك
“Hari ini adalah Arafah wahai jiwaku. Rahmat turun padamu tanpa batas. Jika kau masih mencari Ka’bah di luar, kau belum melihat Ka’bah yang ada di dalam dadamu.”
Arafah sejati terjadi di dalam hati yang hadir, yang hancur, yang merindu. Qurban: Terminal Taqarruban, Mendekat dengan Pengorbanan. Setelah Arafah, kita menuju Idul Adha dan ibadah Qurban. Secara lahir, qurban adalah menyembelih hewan. Perintahnya jelas:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah”
Tapi Allah menegaskan, yang sampai kepada-Nya bukan darah dan dagingnya:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketaq-waanmulah yang dapat mencapainya”
Secara batin, qurban adalah menyembelih nafsu kita. Menyembelih keangkuhan, cinta dunia, dan ego yang menjauhkan kita dari Allah. Ini adalah terminal taqarruban– terminal mendekat. Karena tidak ada kedekatan tanpa pengorbanan. Lihatlah Imam Husain bin Imam Ali Al Murtadho alaihima salam di Padang Karbala. Saat agama akan padam, ia berkata:
إِنْ كَانَ الدِّينُ لَا يَسْتَقِيمُ إِلَّا بِقَتْلِي، فَيَا سُيُوفُ خُذِينِي
“Jika agama ini tidak akan tegak kecuali dengan darahku, maka wahai pedang, ambillah nyawaku.”
Beliau mengajarkan kita; Kadang mendekat kepada Allah butuh kita mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai. Harta, waktu, ego, bahkan diri kita sendiri. Safari spiritual ini singkat. Tarwiyah untuk mengisi bekal. Arafah untuk berjumpa. Qurban untuk membuktikan cinta. Jangan sampai kita hanya sampai di Mina secara fisik, tapi hati kita tertinggal di pasar dunia. Jangan sampai kita wukuf di Arafah, tapi hati kita lalai. Jangan sampai kita menyembelih hewan, tapi nafsu kita tetap hidup.








