Home / Opini / Runtuhnya Domino Kemanusiaan Ketika Kesengsaraan Pribadi Digunakan sebagai Pembenar untuk Menindas

Runtuhnya Domino Kemanusiaan Ketika Kesengsaraan Pribadi Digunakan sebagai Pembenar untuk Menindas

Oleh: Dr. Tgk. Saiful Bahri, M.A.
Dosen Program Magister Prodi KPI FDK UNISAI Samalanga

Dalam diskursus ilmu komunikasi, konsep ripple effect mempostulasikan bahwa intervensi mikro dapat memicu implikasi makro yang sistemik. Postulat ini berbanding lurus dengan dinamika eksploitasi struktural, di mana keputusan egois, distorsi informasi, atau kebijakan diskriminatif menghasilkan kerusakan kolateral yang masif. Analogi ekosistem arboreal mengilustrasikan prinsip interdependensi sosial; perusakan satu entitas secara destruktif akan meruntuhkan keseimbangan sistemik dan memarginalkan berbagai elemen masyarakat, fenomena ini menurut pengamatan kita sedang melanda di dalam masyarakat Aceh kususnya dan Indonesia secara umumnya.

Melampaui dimensi sosiologis, terdapat perspektif teologis Islam yang menegaskan transendensi keadilan ilahiah. Ekspresi penderitaan kaum marginal merepresentasikan bahasa spiritual yang melampaui batas epistemologis duniawi, mengindikasikan bahwa impunitas pelaku kezaliman hanyalah ilusi temporal. Kezaliman tidak terbatas pada agresi fisik, melainkan mencakup deprivasi hak, penyalahgunaan asimetri kekuasaan, dan penghambatan aksesibilitas, yang secara psikologis melumpuhkan vitalitas masyarakat, baik masyarakat luas maupun masyakarat dalam suatu komunitas tertentu, demi kepentingan pribadi dan golongan kadang kita lupa terhadap model komunikasi profetik, yang sedang di galakkan oleh kementerian terkait. Profetik merupakan konsep komunikasi yang diwariskan Rasulullah saw.

Keterikatan sosial yang resilien tidak dikonstruksi melalui kompetisi eksploitatif, melainkan melalui solidaritas organik dan mutualisme. Hegemoni yang dibangun di atas marginalisasi pihak lain memiliki fundamental struktural yang rapuh dan rentan terhadap disintegrasi. Oleh karena itu, imperatif moral menuntut individu untuk bertransformasi menjadi agen emansipatoris. Apabila kontribusi redistributif belum dapat direalisasikan, abstensi dari tindakan destruktitif merupakan batas minimum etis yang harus dipatuhi oleh setiap aktor sosial. Pada akhirnya, esensi legacy (warisan) peradaban tidak dievaluasi berdasarkan akumulasi kapital, hierarki birokrasi, atau ekspansi pengaruh. Parameter fundamentalnya terletak pada kapasitas individu dalam mereproduksi kesejahteraan, bertindak sebagai katalisator kehidupan, dan secara aktif mencegah dehidrasi sosial yang mematikan harapan kaum rentan, karena bentuk dominannya sebuah kekuasan akan membuat berkurannya empati masyarakat, yang akhirnya berdampak pada eksistensi sebuah organisasi menjadi lemah dan kerdil. Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan