Nuriman Abdullah, M.Ed, Ph.D
UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe
Rasulullah SAW bersabda: “Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin? Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga.” (HR Tirmidzi, Nasai, dan Al Hakim).
Sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi, Nasai, dan Al-Hakim tentang munculnya para pemimpin zalim di akhir zaman merupakan peringatan keras yang sangat relevan dengan realitas umat Islam masa kini. Hadis ini menegaskan bahwa akan datang suatu masa setelah wafatnya Nabi, di mana kekuasaan berada di tangan orang-orang yang menebar kebohongan dan kezaliman. Lebih dari sekadar prediksi, hadis ini adalah panggilan untuk membentuk sikap moral dan politik umat dalam menghadapi fenomena sosial-politik yang menyimpang.
Fenomena akhir zaman bukan hanya ditandai dengan bencana alam atau kekacauan global, tetapi lebih dalam: terjadinya erosi moral, pembenaran terhadap kebohongan publik, serta normalisasi kezaliman dalam kehidupan sosial-politik. Ketika umat lebih memilih diam atau bahkan membela penguasa zalim demi kepentingan pribadi atau keamanan semu, di situlah fitnah akhir zaman benar-benar menjadi kenyataan.
Rasulullah SAW menyampaikan bahwa siapa pun yang “membenarkan kedustaan” para pemimpin dan “menyokong kezaliman” mereka bukan bagian dari umat beliau. Ini adalah pernyataan tegas yang menggarisbawahi pentingnya keberpihakan umat Islam kepada kebenaran dan keadilan, bukan kepada kekuasaan yang menindas. Bahkan lebih dari itu, Nabi menyatakan bahwa orang-orang yang bersikap pasif atau mendukung kezaliman tersebut tidak akan bertemu beliau di telaga (haudh), simbol kerinduan dan pertemuan mulia dengan Nabi di akhirat kelak. Sebuah ancaman serius yang mengindikasikan keterputusan spiritual akibat kompromi terhadap nilai-nilai Islam.
Hadis ini seharusnya menyadarkan umat bahwa keberislaman tidak cukup hanya dengan ibadah ritual. Keberislaman juga harus tercermin dalam keberanian moral untuk menolak kezaliman, menyuarakan kebenaran, dan membela hak-hak mereka yang tertindas. Dalam konteks ini, kesetiaan kepada Nabi SAW bukan sekadar pernyataan lisan, melainkan komitmen terhadap nilai-nilai kenabian: kebenaran (ṣidq), keadilan (‘adl), dan amanah. Berikut beberapa contoh konkret yang mencerminkan komitmen terhadap nilai-nilai kenabian dalam kehidupan nyata, sebagaimana ditegaskan dalam hadis tersebut:
- Menolak Kebijakan yang Zalim
Seorang Muslim menolak untuk ikut serta dalam program-program yang terindikasi korupi yang mengorbankan hak individu lain. Nilai yang ditunjukkan: Kejujuran (ṣidq), keberanian moral, dan keadilan (‘adl).
- Membela Rakyat yang Tertindas
Seorang Muslim memperjuangkan hak-hak individu yang dieksploitasi secara dhalim, meskipun dia mendapatkan tekanan dan ancaman dari berbagai pihak. Nilai yang ditunjukkan: Membela yang lemah, amanah terhadap suara masyarakat, dan menyuarakan kebenaran.
- Tidak Membenarkan Narasi Bohong
Seorang Jurnalis Muslim menolak menyebarkan berita propaganda yang jelas-jelas memutarbalikkan fakta. Ia tetap jujur meskipun diancam akan dibredel. Nilai yang ditunjukkan: Ṣidq (kebenaran) dan keberanian menghadapi intimidasi demi kejujuran.
- Tidak Terlibat dalam Praktik Nepotisme atau Suap
Seorang Muslim menolak menerima suap atau ikut dalam jaringan nepotisme walaupun itu membuat kariernya terhambat. Ia lebih memilih jalan yang halal dan bersih. Nilai yang ditunjukkan: Amanah dan istiqamah terhadap prinsip Islam.
- Mendidik Generasi Muda tentang Pentingnya Kejujuran dan Keadilan
Seorang guru Muslim menanamkan kepada murid-muridnya pentingnya menyampaikan kebenaran dan bersikap adil sejak dini, tidak hanya dalam teori tetapi juga dalam praktik keseharian. Nilai yang ditunjukkan: Pendidikan karakter Islam dan keteladanan moral.
- Menolak Menjadi Alat Legitimasi Rezim Zalim
Seorang tokoh agama menolak undangan untuk menjadi penasehat spiritual atau simbol legitimasi bagi penguasa yang telah nyata-nyata menindas rakyat, demi menjaga kehormatan Islam dan dirinya. Nilai yang ditunjukkan: Menjaga marwah Islam, tidak tunduk pada kekuasaan yang dzalim.
Hadis ini bukan hanya nasihat keagamaan, tapi juga merupakan panggilan etis dan politis agar umat Islam menjadi penjaga nurani sosial. Ibadah ritual memang penting, tetapi tanpa keberanian moral, keberislaman kita bisa menjadi formalis dan tidak berdampak terhadap masyarakat.
“Siapa yang diam terhadap kebatilan, maka dia bagian darinya.” – prinsip ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadis tersebut.
Dengan demikian, fenomena akhir zaman sebagaimana yang digambarkan Rasulullah SAW menuntut kita untuk tidak hanya menjadi pengamat pasif. Kita harus menjadi agen perubahan—menolak kebohongan, melawan kezaliman, dan memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam segala aspek kehidupan. Hanya dengan itulah, kita layak berharap untuk dapat bertemu Rasulullah SAW di telaga dan mendapatkan syafaatnya.









