Home / Pendidikan / Sifat Anjing Perspektif Psikologis dan Sosiologis Hewan

Sifat Anjing Perspektif Psikologis dan Sosiologis Hewan

Oleh: Nuriman Abdullah, M.Ed, Ph.D

Dosen UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe

Setiap kali kita melihat anjing seolah menjadi simbol universal dan menjadi tontonan seperti dalam film-film kartun. Ada juga peribahasa tentang ajing yang dianalogikan sebagai perilaku “berebut tulang.” Analogi ini hampir disemua komunitas dan bangsa di dunia bahwa anjing memiliki perilaku suka pada tulang. Dari perspektif psikologi hewan, perilaku ini tidak dilihat sebagai stigma negatif, tetapi cendrung dilihat sebagai naluri mempertahankan kebutuhan dasar yang dikenal dengan istilah “resource guarding” yakni insting yang dimiliki ajing untuk menjaga kelangsungan hidup terjamin. Fenomena ini menarik dibaca sebagai analogi kehidupan sosial manusia kekinian yang sering berebut sumber daya, jabatan, proyek, perhatian publik, bahkan panggung akademik.

Sifat-sifat anjing yang sering tampak ialah suka berebut tulang, dan suka menggonggong yang mengandung pesan-pesan moral. Diantaranya adalah simbol yang mencerminkan kecenderungan mengejar kebutuhan yang dapat dianalogikan dengan kekuasaan, kenyamanan, atau pengakuan sosial. Sifat lain dari anjing adalah suka menggonggong, gongongan ini sebenarnya hanyalah gaya komunikasi anjing. Gongongan ini hampir saja menyerupai hayawanunnatiq yang mempertegas seakan berbicara, menulis status, berteriak di media sosial, atau menyuarakan keresahan bukan karena marah melainkan karena ingin dimengerti.

Meskipun begitu anjing telah menjadi sahabat manusia selama ribuan tahun. Mereka bisa diajari menjaga rumah hingga melakukan tugas-tugas kompleks. Bahkan anjing mampu Melacak Sesuatu memalui indra penciuman anjing sangat tajam. Disamping itu, anjing bukan hanya mengejar sesuatu, tetapi juga menikmati hasilnya. Ini mengingatkan bahwa tidak sedikit manusia terjebak dalam siklus mengejar tanpa sempat bersyukur.

Sifat lain dari ajing adalah menjilat sekaligus menampilkan cara menunjukkan kasih sayang, dan mengikat ikatan sosial. Meskipun sifat ini jika ada pada manusia, sering diasosiasikan dengan mencari muka atau mendekat demi kepentingan pribadi. Analogi ini mengingatkan kita agar berhati-hati sambil tetap menjaga marwah diri, jangan sampai berubah menjadi sikap oportunistis yang mengorbankan integritas.

Islam melihat anjing sebagai najis mughallazhah (najis berat) yang jika terkena air liurnya, ada tata cara khusus penyucian yang sering disebut dengan “samak.” Namun begitu, memberi minum ajing kehausan memperoleh pahala. Artinya, kita tetap dituntut memperlakukan anjing dengan baik dan  memanfaatkan potensinya secara benar.

Sifat-sifat naluriah yang ada pada ajing untuk menjaga kebutuhan dasar, mengomunikasikan sesuatu. Dalam kacamata psikologi hewan, sosiologi, dan fikih memberi lapisan pelajaran berharga.

Tinggalkan Balasan