Oleh: Nadila Fitria
Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Di era digital yang berkembang pesat, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Teknologi ini menghadirkan kemudahan yang sangat luar biasa, terutama dalam dunia pendidikan. Berbagai tugas akademik kini dapat diselesaikan dengan cepat hanya melalui sentuhan jari. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan penting: apakah kemajuan teknologi justru menyebabkan menurunnya minat baca, khususnya di kalangan Generasi Z?
Generasi Z dikenal sebagai generasi yang lahir dan tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Mereka terbiasa mengakses informasi secara instan, ringkas, dan praktis. Budaya membaca teks panjang perlahan tergantikan oleh konten visual, video singkat, dan rangkuman cepat. Fenomena ini semakin diperkuat dengan hadirnya AI yang mampu menyajikan jawaban secara langsung dan to the point. Akibatnya, proses membaca dan menelaah sumber secara mendalam sering kali diabaikan.
Kondisi ini tercermin dalam berbagai hasil riset global. Berdasarkan laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), skor literasi membaca Indonesia berada pada angka 359, masih berada di bawah rata-rata OECD. Data ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan memahami informasi masih menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan Indonesia.
Selain itu, laporan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menunjukkan bahwa Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia terus meningkat, meskipun masih berada pada kategori sedang. Hal ini menandakan bahwa budaya literasi perlu terus diperkuat agar mampu bersaing di era global yang kompetitif.
Fenomena minimnya literasi juga terasa nyata di lingkungan akademik. Dalam sebuah kesempatan, beberapa dosen menanyakan jumlah buku yang telah dibaca mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Hasilnya cukup memprihatinkan, hanya segelintir mahasiswa yang mengaku pernah membaca buku secara utuh, dan sebagian besar di antaranya adalah novel. Sementara itu, buku ilmiah sebagai sumber utama pengetahuan jarang disentuh. Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya literasi di kalangan mahasiswa masih perlu ditingkatkan.
Lebih jauh lagi, ketergantungan terhadap AI semakin terlihat dalam penyelesaian tugas-tugas akademik. Tidak sedikit mahasiswa yang mengandalkan teknologi tersebut tanpa melakukan verifikasi atau membaca sumber pendukung lainnya. Padahal, UNESCO menegaskan bahwa literasi merupakan keterampilan dasar yang sangat penting untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat dan berpikir kritis di era digital. Tanpa kemampuan literasi yang baik, kemudahan teknologi justru dapat melemahkan daya analisis dan kemandirian intelektual.
Meski demikian, AI bukanlah musuh literasi. Sebaliknya, teknologi ini dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan secara bijak. AI mampu membantu menemukan referensi, merangkum informasi, dan mempercepat proses belajar. Namun, teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran membaca sebagai fondasi utama dalam membangun pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kebiasaan membaca perlu terus dikembangkan.
Fenomena ini juga menjadi refleksi pribadi bagi penulis. Tidak dapat dimungkiri bahwa kemudahan yang ditawarkan AI sering kali membuat mahasiswa, termasuk penulis sendiri, tergoda untuk mengandalkannya tanpa membaca sumber asli secara mendalam. Kesadaran akan hal tersebut menjadi pengingat bahwa literasi merupakan keterampilan esensial yang tidak boleh diabaikan. Membaca bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan jendela untuk memahami dunia secara lebih luas dan mendalam.
Untuk mengatasi krisis literasi di era AI, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Institusi pendidikan perlu mendorong budaya membaca melalui program literasi yang berkelanjutan. Dosen dapat menugaskan mahasiswa untuk mengkaji buku dan jurnal ilmiah secara kritis, bukan sekadar mencari jawaban instan. Di sisi lain, mahasiswa juga harus menumbuhkan kesadaran diri untuk menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan sekadar tuntutan akademik.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak menjauhkan manusia dari budaya literasi, melainkan memperkuatnya. AI hanyalah alat, sedangkan membaca adalah kunci untuk memahami dan memanfaatkan pengetahuan secara bijak. Generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi generasi yang cerdas dan kritis, asalkan mampu menyeimbangkan kemudahan teknologi dengan kebiasaan membaca yang berkelanjutan. Literasi kini berada di ujung jari. Pertanyaannya, apakah kita akan menggunakannya untuk sekadar mencari jawaban instan atau untuk membuka wawasan dan membangun masa depan yang lebih baik?.








