Oleh; Wildatul Asyra
Penulis Merupakan Mahasiswa FUAD Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Di zaman sekarang, rasanya sulit membayangkan kehidupan tanpa media. Setiap hari kita menerima berbagai informasi melalui media sosial, portal berita, televisi, YouTube, dan berbagai platform lainnya. Hanya dalam beberapa detik, sebuah informasi dapat menyebar dan diketahui banyak orang. Media membuat kita lebih mudah mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitar kita, bahkan di tempat yang jauh. Namun, di tengah banyaknya informasi tersebut, muncul pertanyaan: apakah media benar-benar membuat kita semakin tahu atau justru semakin bingung?
Menurut saya, media memiliki peran yang sangat penting sebagai sumber informasi. Bagi mahasiswa, media dapat membantu memperoleh informasi tentang pendidikan, kegiatan kampus, beasiswa, perkembangan teknologi, hingga berbagai persoalan sosial. Informasi yang dahulu sulit ditemukan sekarang dapat diakses dengan mudah. Hal ini menunjukkan bahwa media dapat membantu seseorang menjadi lebih berpengetahuan. Selain memberikan informasi, media juga memiliki peran dalam pendidikan. Banyak materi pembelajaran yang dapat ditemukan melalui artikel, video, podcast, maupun infografis. Penyampaian materi yang lebih beragam terkadang membuat seseorang lebih mudah memahami suatu hal. Karena itu, media sebenarnya dapat menjadi salah satu sarana belajar yang bermanfaat jika digunakan dengan baik.
Media juga tidak hanya digunakan untuk belajar dan mencari informasi. Hiburan menjadi salah satu peran media yang paling sering kita rasakan. Menonton film, mendengarkan musik, melihat konten kreatif, atau sekadar menikmati video ringan dapat menjadi cara untuk melepas penat. Namun, penggunaan media untuk hiburan juga perlu dikendalikan agar tidak membuat kita lupa waktu dan mengabaikan kegiatan yang lebih penting.
Di sisi lain, banyaknya informasi di media juga dapat menimbulkan masalah. Salah satunya adalah penyebaran hoaks. Salah satu contohnya terjadi pada 2023 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Polda DIY mengungkap kasus penyebaran informasi palsu mengenai dugaan kekerasan seksual yang beredar di media sosial. Seorang mahasiswa berinisial RAN ditangkap setelah penyelidikan menunjukkan bahwa informasi tersebut merupakan hoaks. Menurut keterangan polisi, RAN mengaku menyebarkan informasi tersebut karena sakit hati. Kasus tersebut menurut saya menunjukkan bahwa media memiliki dua sisi. Media dapat menjadi tempat untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat, tetapi juga dapat menjadi tempat penyebaran informasi yang belum tentu benar. Ketika sebuah informasi sudah viral, banyak orang terkadang langsung percaya dan ikut menyebarkannya tanpa mencari tahu sumber dan kebenarannya terlebih dahulu.
Karena itu, masalah utama di tengah banyaknya informasi bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang bisa kita dapatkan, tetapi juga tentang kemampuan kita dalam memilih dan menilai informasi. Sebagai mahasiswa, kita seharusnya tidak mudah percaya hanya karena sebuah informasi sudah ramai dibicarakan. Kita perlu membaca informasi secara utuh, melihat sumbernya, membandingkannya dengan sumber lain, dan memahami konteksnya sebelum mengambil kesimpulan.
Menurut saya, media tidak seharusnya ditakuti hanya karena memiliki sisi negatif. Media tetap memiliki peran besar dalam memberikan informasi, mendukung pendidikan, menyediakan hiburan, dan menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Yang paling penting adalah bagaimana kita sebagai pengguna mampu menggunakan media secara bijak dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, media memang membuat kita lebih mudah mengetahui banyak hal. Namun, banyak mengetahui belum tentu berarti benar-benar memahami. Di zaman ketika informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, menjadi cerdas bukan berarti mengetahui semuanya. Menjadi cerdas adalah mampu berhenti sejenak, berpikir, dan memastikan kebenaran sebelum ikut mempercayai atau menyebarkannya.









