Pernahkah Anda merasa sangat lega setelah mengobrol dengan seseorang? Rasanya seperti beban di dada hilang, dan Anda bisa menjadi diri sendiri tanpa rasa takut. Itulah inti dari percakapan yang sehat antarmanusia. Sayangnya, banyak dari kita justru lebih sering merasa lelah setelah ngobrol. Kita merasa disalahkan, direndahkan, atau dipaksa untuk setuju. Padahal, tujuan utama dari setiap obrolan seharusnya adalah membuat hati orang lain merasa aman dan dihargai, fenomena ini yang dilupakan oleh seseorang dalam proses komunikasi.
Percakapan yang baik bukan sekadar tentang siapa yang paling pintar berbicara atau siapa yang paling banyak memberi nasihat. Percakapan yang sejati adalah ketika lawan bicara merasa nyaman untuk menjadi diri mereka sendiri. Mereka tidak perlu memakai topeng atau bersandiwara menjadi kuat. Saat mereka bercerita tentang kesalahan atau kelemahan, mereka tidak takut langsung dicela atau dihakimi.
Sebaliknya, mereka merasa didengarkan dengan tulus. Kehadiran kita yang utuh, tanpa sibuk bermain HP digenggaman seperti yang selama ini kita rasakan, sudah cukup membuat hati mereka tenang. Kita juga harus menjaga ucapan agar tidak melontarkan kalimat yang meracuni perasaan. Sindiran halus, cemoohan, atau remehan kecil bisa melukai batin lebih dalam daripada teriakan. Karena menurut kita itu adalah lucu tapi bagi orang lain itu adalah hal yang menyakitkan.
Mari kita ubah cara kita berkomunikasi mulai hari ini. Sebelum berbicara, tanyakan pada diri sendiri; apakah ucapan ini akan menenangkan atau justru melukai? Jadilah ruang aman bagi semua orang di sekitar kita. Ketika seseorang merasa hatinya terjaga dari racun perkataan dan diterima apa adanya, mereka akan lebih terbuka dan percaya. Hubungan yang tulus tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui kebiasaan kecil untuk saling menjaga perasaan setiap hari. Dengannya, keluarga, teman, maupun rekan kerja akan selalu rindu untuk kembali berbagi cerita. Pada akhirnya, kualitas hubungan kita tidak diukur dari seberapa sering kita bertemu, melainkan dari seberapa aman hati seseorang saat berada di dekat kita. Ayoooo kita mulai sekarang juga jangan tunggu besok.
Oleh: Dr. Oknita,
Penulis Merupakan Dosen FUADย Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe









