Home / Pendidikan / KESULITAN LITERASI GANDA PADA ANAK

KESULITAN LITERASI GANDA PADA ANAK

Yuswardi Syukri Reubee

Penulis merupakan guru Pada Dayah Ulumuddin dan SMPN 7 Kota Lhokseumawe

Literasi pada anak usia dini dan pendidikan dasar merupakan komponen fundamental dalam perkembangan akademik dan sosial anak. Literasi dalam konteks ini mencakup kemampuan membaca huruf Latin — sistem tulisan yang digunakan untuk bahasa Indonesia dan banyak bahasa dunia — serta huruf hijaiyah yang menjadi dasar membaca Al‑Qur’an dalam pendidikan Islam. Anak yang mengalami kesulitan dalam kedua sistem tulisan ini menghadapi apa yang disebut sebagai literasi ganda, yang merupakan kombinasi hambatan pembelajaran dalam huruf Latin sekaligus huruf hijaiyah. Dalam banyak studi tentang pendidikan dasar, kesulitan awal membaca dan menulis huruf Latin telah diidentifikasi sebagai faktor yang memengaruhi perkembangan literasi lebih lanjut, termasuk kemampuan membaca kata dan teks singkat (Andini & Ahmadi, 2024). Sementara itu dalam ranah pendidikan Islam, analisis terhadap kemampuan mengenal huruf hijaiyah pada anak usia dini menunjukkan adanya hambatan yang spesifik terkait bentuk huruf dan harakat yang digunakan (Gumilang & Rocmah, 2025). Kedua bidang ini saling terkait dan perlu dibahas secara terpadu untuk memahami fenomena literasi ganda pada anak.

Perbedaan Sistem Penulisan Latin dan Hijaiyah

Huruf Latin bersifat alfabetik linear dengan hubungan grafem‑fonem (berupa huruf atau kombinasi huruf (ejaan) melambangkan bunyi tertentu yang relatif stabil), di mana setiap huruf biasanya memiliki hubungan yang jelas dengan bunyinya dalam konteks pengucapan bahasa Indonesia. Karena struktur huruf Latin relatif teratur, pembelajaran huruf ini umumnya lebih cepat dipahami oleh anak, terutama bila diperkenalkan sejak usia dini. Namun dalam praktik pendidikan dasar, unsur fonologis dan motivasi belajar tetap berpengaruh dalam proses penguasaan huruf Latin (Andini & Ahmadi, 2024). Sebaliknya, huruf hijaiyah memiliki karakteristik bentuk yang berubah sesuai hubungan antar huruf dalam sebuah kata, tanda diakritik (harakat) yang memengaruhi bunyi huruf, serta arah penulisan dari kanan ke kiri yang berbeda dengan huruf Latin. Selain itu, huruf hijaiyah terkait dengan pembacaan tajwid ketika diterapkan dalam teks Al‑Qur’an, yang menambah kompleksitas dalam proses belajar anak (Gumilang & Rocmah, 2025). Hal ini membuat pembelajaran huruf hijaiyah seringkali membutuhkan pendekatan fonetik (cara mengucapkan suatu huruf) dan artikulasi yang lebih intensif dibandingkan huruf Latin.

Psikologi Pendidikan dan Hambatan Literasi Huruf

Dalam psikologi pendidikan, keterampilan literasi awal berkembang melalui integrasi kemampuan kognitif, fonologis, dan visual anak. Kesadaran terhadap suara huruf (phonemic awareness) merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki anak sebelum mampu membaca dengan lancar. Penelitian oleh Andini dan Ahmadi (2024) menunjukkan bahwa banyak siswa di kelas awal sekolah dasar mengalami kesulitan dalam mengenali huruf dan menghubungkannya dengan bunyi yang tepat, terutama ketika mereka baru saja diperkenalkan pada huruf Latin. Kesulitan ini bisa berakar dari keterbatasan pengalaman membaca sebelum usia sekolah, rendahnya paparan terhadap huruf dalam lingkungan rumah, atau kurangnya dukungan pedagogis yang memadai. Dalam beberapa kasus, anak menunjukkan hambatan dalam menulis huruf kecil atau mengembangkan kelancaran membaca teks sederhana, yang selanjutnya berdampak pada kemampuan membaca huruf dalam konteks kata dan kalimat (Andini & Ahmadi, 2024). Selain itu, pengalaman emosional dalam pembelajaran huruf juga sangat memengaruhi perkembangan literasi. Anak yang merasa tertekan atau takut salah cenderung mengalami hambatan lebih besar dalam membaca huruf Latin maupun huruf hijaiyah karena proses mental mereka lebih terfokus pada rasa takut membuat kesalahan daripada pemahaman huruf itu sendiri.

Pembelajaran Huruf Hijaiyah dalam Pendidikan Islam

Huruf hijaiyah merupakan fondasi bagi kemampuan membaca Al‑Qur’an dalam pendidikan Islam. Berbagai strategi pembelajaran seperti metode Iqra’ dan pendekatan komunikatif fonetik telah umum digunakan untuk membantu anak mengenal huruf dan bunyi hijaiyah. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak tetap mengalami kesulitan baik dalam mengenal huruf secara visual maupun dalam membaca dengan benar ketika harakat ditambahkan (Gumilang & Rocmah, 2025). Kendala ini semakin nyata ketika anak dituntut untuk membaca huruf hijaiyah dengan berbagai tanda diakritik dan dalam bentuk sambungan huruf yang berbeda‑beda. Hal ini menunjukkan bahwa pengenalan huruf hijaiyah bukan hanya sekadar mengenal bentuk huruf, tetapi juga memerlukan pemahaman fonetik dan latihan artikulasi yang intensif. Anak yang tidak terbiasa dengan bentuk huruf yang berubah‑ubah sering kali mengaitkan huruf dengan bunyi tanpa konteks yang benar, sehingga memengaruhi kemampuan mereka membaca Al‑Qur’an secara tepat. Beberapa pendekatan telah terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca huruf hijaiyah anak, seperti penggunaan kartu huruf hijaiyah untuk meningkatkan pengenalan huruf melalui visualisasi yang repetitif dan dukungan pendidik atau orang tua (Maksuroh & Agustin, 2025). Selain itu, pelatihan kaligrafi huruf hijaiyah juga membantu melatih keterampilan motorik dan pengenalan huruf secara simultan, yang dapat memperkuat pembelajaran huruf dalam konteks membaca dan menulis (Selian, Lisdayani & Fadhila, 2024).

Faktor Penyebab Kesulitan Literasi Ganda

Kesulitan literasi ganda muncul bukan karena satu faktor tunggal, melainkan interaksi sejumlah elemen yang saling berkaitan:

  • Perbedaan Struktur Huruf dan Sistem Penulisan:

Huruf Latin dan huruf hijaiyah memiliki hubungan grafem‑fonem yang berbeda, di mana huruf hijaiyah seringkali memerlukan interpretasi variasi bentuk huruf berdasarkan konteksnya.

  • Kesiapan Fonologis dan Visual Anak:

Anak perlu mengalami tahap perkembangan fonologis dan kemampuan visual terlebih dahulu sebelum mampu memproses huruf secara efektif dalam kedua sistem tulisan.

  • Pendekatan Pembelajaran yang Tidak Sesuai:

Metode pengajaran yang hanya berfokus pada hafalan huruf tanpa mengintegrasikan latihan fonetik dan pengalaman visual yang menarik dapat menghambat proses belajar.

  • Dukungan Lingkungan dan Orang Tua:

Anak yang mendapatkan dukungan aktif di rumah untuk berlatih huruf Latin maupun huruf hijaiyah menampilkan perkembangan literasi yang lebih cepat dibandingkan mereka yang minim paparan atau pendampingan.

  • Aspek Motivasi dan Pengalaman Emosional:

Rasa percaya diri, motivasi intrinsik, serta pengalaman positif saat mencoba dan berhasil membaca huruf sangat menentukan kemampuan literasi jangka panjang.

Strategi Penguatan Literasi Ganda

Untuk membantu anak mengatasi tantangan literasi ganda, beberapa strategi berikut dapat diterapkan:

  • Pendekatan Multisensorik:

Menggabungkan rangsangan visual, fonetik, dan kinestetik dapat membantu anak membentuk hubungan yang lebih kuat antara huruf dan bunyi, baik untuk huruf Latin maupun hijaiyah.

  • Metode Pembelajaran Interaktif dan Menyenangkan:
  • Permainan huruf, kartu huruf, dan media belajar interaktif lainnya mendorong keterlibatan aktif anak, sehingga meningkatkan motivasi belajar.
  • Pelatihan Fonetik dan Tajwid:

Khususnya untuk huruf hijaiyah, pelatihan fonetik yang menekankan makhraj huruf dan aturan dasar tajwid membantu anak membaca Al‑Qur’an dengan benar sejak awal.

  • Kolaborasi Guru dan Orang Tua:

Keterlibatan orang tua dalam kegiatan membaca di rumah memperkuat proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah atau lembaga pendidikan Islam.

Kesimpulan

Kesulitan literasi ganda pada anak —yakni hambatan dalam mengenal huruf Latin sekaligus huruf hijaiyah — adalah fenomena kompleks yang memerlukan pendekatan terpadu. Anak perlu didukung secara kognitif, emosional, dan pedagogis agar dapat menguasai kedua sistem tulisan ini. Perbedaan struktur linguistik dan karakter huruf, kesiapan fonologis, serta metode pembelajaran yang tepat menjadi kunci utama dalam membantu anak mengatasi hambatan baca awal. Dengan strategi pembelajaran yang menyenangkan, multisensorik, serta dukungan lingkungan dan keluarga, literasi ganda dapat dikembangkan secara efektif dan berkelanjutan dalam konteks pendidikan dasar Indonesia.

Tinggalkan Balasan