Oleh; Misbahul Jannah
Penulis Merupakan Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam UIN SUNA Lhokseumawe
Setiap usai hari raya keagamaan, masyarakat Indonesia mengenal sebuah tradisi yang sangat khas dan unik, yaitu halal bihalal. Kegiatan ini bukan sekedar pertemuan biasa, melainkan momen sacral untuk saling memaafkan, membersihkan hati, dan menyambung Kembali tali silaturrahmi yang mungkin sempat terputus. Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, fenomena pelaksanaan halal bihalal kini mengalami banyak perubahan yang perlu kita cermati Bersama.
Mengapa Halal Bihalal Bisa Bergeser Bentuknya?
Dulu, halal bihalal identic dengan suasana yang sederhana, kekeluargaan, dan penuh kehangatan. Orang-orang berkumpul, berbicara santai, dan saling bersalaman dengan hati yang tulus. Namun kini, banyak acara halal bihalal yang berubah menjadi acara besar yang megah. Ada panggung hiburan, dekorasi yang mewah, hingga konsumsi yang disiapkan secara berlebihan. Perubahan ini terjadi karena pengaruh gaya hidup modern dan tuntutan social. Masyarakat sering kali merasa perlu tampil โbagusโ dan โmeriahโ demi citra atau gengsi. Akibatnya, focus kegiatan yang semula pada pendekatan batin dan permohonan maaf, perlahan bergeser menjadi sekadar acara seremonial atau formalitas belaka.
Apakah Media Sosial Mengubah Esensi Halal Bihalal?
Tidak bisa dipungkiri, kehadiran teknologi dan media sosial membawa dampak besar pada tradisi ini. Fenomena yang sering kita lihat sekarang adalah budaya โdokumentasiโ. Banyak orang yang hadir bukan semata mata untuk bertemu dan memaafkan, melainkan untuk berfoto, membuat konten video, dan memamerkannya di media sosial. Meskipun terdengar sepele, hal ini membuat interaksi menjadi kurang khidmat. Perhatian lebih banyak tercurah ke layar ponsel daripada kepada orang yang ada dihadapan. Selain itu, ucapan maaf kini sering digantikan oleh pesan broadcast massal atau ucapan digital yang seragam, sehinggai terasa kurang personal dan kehilangan sentuhan kemanusiaannya.
Mengapa Nilai Ketulusan Mulai Tergeser?
Tantangan terbesar dalam halal bihalal masa kini adalah mempertahankan nilai ketulusan. Banyak orang datang hanya karena kewajiban atau takut dikucilkan, bukan karena keinginan hati untuk memperbaiki hubungan. Ada juga fenomena di mana acara ini dijadikan ajang silang kepentingan, mencari koneksi bisnis, atau bahkan tempat membanding-bandingkan penampilan dan status social. Ketika hal ini terjadi, makna mendalam dari halal bihalal sebagai sarana penyucian jiwa menjadi pudar. Kegiatan tersebut menjadi hampa dan hanya meninggalkan Kesan ramai sesaat, tanpa membawa perubahan positif dalam hubungan antarmanusia.
Lalu Siapa Yang Seharusnya Menjaga Tradisi Ini?
Menjaga keaslian tradisi halal bihalal bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Panitia penyelenggara sebaiknya tetap mengutamakan kesederhanaandan kenyamanan untuk berinteraksi, bukan mengejar kemewahan yang berlebihan. Di sisi lain, kita sebagai peserta juga harus menyadari tujuan utama dari kegiatan ini. Kita perlu bijak menggunakan teknologi, tidak membiarkan ponsel mengganggu momen kebersamaan, dan lebih mengutamakan ketulusan hati dalam memaafkan serta memohon maaf.
Penutup
Halal bihalal adalah warisan budaya luhur yang sangat indah dan menjadi ciri khas Masyarakat kita. Ia mengajarkan kita untuk tidak menyimpan dendam dan selalu membuka pintu maaf. Oleh karena itu,sudah sepatutnya kita menjaga agar tradisi ini tidak kehilangan jiwanya. Mari kita jadikan halal bihalal sebagai momen untuk merenung, memperbaiki diri, dan mempererat persaudaraan, bukan sekadar menjadi agenda tahunan yang hampa makna. Dengan begitu, keberkahan hari raya akan benar-benar terasa dan membawa kedamaian bagi kehidupan kita Bersama. misbahuljannah366@gmail.com









