Seorang anak berusia tiga tahun menunjuk gelas ketika ingin minum. Ia menarik tangan ibunya untuk meminta bantuan, tersenyum ketika diajak bermain, atau menangis ketika merasa tidak nyaman. Namun, anak tersebut belum mampu mengucapkan kata-kata yang bermakna. Apakah ia tidak sedang berkomunikasi? Pertanyaan ini penting karena komunikasi dalam kehidupan sehari-hari masih sering dipahami sebatas kemampuan berbicara. Padahal, manusia menyampaikan pesan melalui berbagai cara, baik verbal maupun nonverbal. Dari perspektif Ilmu Komunikasi, perilaku anak yang menunjuk, menggunakan gestur, menampilkan ekspresi wajah, atau mengarahkan perhatian kepada suatu benda dapat menjadi bagian dari proses penyampaian pesan.
Namun, mengakui bahwa anak berkomunikasi melalui gestur bukan berarti mengabaikan keterlambatan perkembangan bicaranya. Justru, memahami komunikasi anak secara lebih utuh dapat membantu orang tua dan lingkungan mengenali kebutuhannya sejak dini.
Komunikasi Tidak Selalu Berawal dari Kata-Kata
Dalam kajian Ilmu Komunikasi, pesan tidak hanya disampaikan melalui bahasa lisan. Ekspresi wajah, gerakan tubuh, tatapan, intonasi, dan tindakan tertentu juga dapat memiliki makna dalam konteks interaksi.
Pada masa awal perkembangan, anak belajar membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya melalui tangisan, senyuman, gerakan, suara, dan perhatian bersama. Seiring perkembangan, kemampuan tersebut diharapkan semakin berkembang, termasuk dalam memahami bahasa dan menggunakan kata-kata untuk menyampaikan keinginan maupun pengalaman. Karena itu, anak yang belum lancar berbicara tidak serta-merta berarti tidak memiliki kemampuan berkomunikasi sama sekali. Kita perlu melihat bagaimana ia memahami pesan, menyampaikan keinginan, merespons orang lain, bermain, serta membangun interaksi sosial.
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menekankan bahwa penilaian terhadap anak yang belum menggunakan bahasa verbal perlu memperhatikan perilaku praverbal, seperti gestur, pola bermain, dan interaksi nonverbal. Artinya, kemampuan komunikasi anak tidak dapat dinilai hanya dari jumlah kata yang diucapkannya.
Meski demikian, komunikasi nonverbal dan kemampuan berbicara merupakan aspek yang saling berkaitan, tetapi tidak identik. Anak mungkin dapat menyampaikan sebagian keinginannya melalui gerakan, sementara perkembangan bahasa ekspresifnya tetap membutuhkan perhatian khusus.
Keluarga sebagai Lingkungan Komunikasi Pertama
Keluarga merupakan lingkungan awal tempat anak belajar memahami pesan, mengenali emosi, membangun kedekatan, dan menggunakan bahasa. Interaksi sehari-hari, seperti berbicara saat makan, membacakan cerita, bernyanyi, bermain bergiliran, dan menanggapi suara anak, memberikan kesempatan untuk belajar berkomunikasi.
Dari perspektif komunikasi interpersonal, interaksi tersebut bukan sekadar proses orang dewasa menyampaikan pesan kepada anak. Ada respons, penafsiran, pengulangan, dan penyesuaian yang berlangsung secara terus-menerus. Ketika anak menunjuk sebuah benda, misalnya, orang tua dapat merespons dengan menyebutkan nama benda itu. Jika anak menunjuk bola, orang tua dapat mengatakan, โItu bola. Mau bola?โ sambil memberikan kesempatan kepada anak untuk merespons dengan cara yang mampu ia lakukan.
Interaksi sederhana seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk memperkaya pengalaman bahasa anak. Kuncinya bukan memaksa anak berbicara, melainkan membangun percakapan yang hangat, responsif, dan sesuai dengan tahap perkembangannya.
Penelitian Latifah, Arsita, dan Hidayah (2026) dalam Jurnal Berkala Epidemiologi membahas keterkaitan faktor lingkungan, stimulasi bahasa, serta interaksi sosial dengan keterlambatan bicara. Temuan tersebut mengingatkan kita akan pentingnya lingkungan komunikasi yang mendukung.
Namun, hasil penelitian tentang faktor lingkungan tidak boleh ditafsirkan sebagai alasan untuk menyalahkan orang tua. Keterlambatan bicara dapat berkaitan dengan berbagai faktor dan memerlukan penilaian individual. Setiap anak memiliki kondisi dan kebutuhan perkembangan yang berbeda.
Ketika Anak Memiliki Pesan, tetapi Kesulitan Menyampaikannya
Bayangkan seorang anak ingin meminta makanan, tetapi belum mampu menyebutkan nama makanan tersebut. Ia mungkin menunjuk, menarik tangan orang tua, menangis, atau menunjukkan perilaku lain agar keinginannya dipahami.
Dalam situasi seperti ini, orang dewasa perlu berusaha memahami pesan yang ingin disampaikan anak. Perilaku tersebut dapat menjadi petunjuk tentang kebutuhan anak, tetapi kita tidak boleh langsung menganggap bahwa setiap gestur memiliki makna yang sama atau selalu berhasil dipahami orang lain. Kesulitan menyampaikan pesan juga dapat menimbulkan frustrasi. Anak mungkin memahami sebagian instruksi, tetapi kesulitan mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata. Karena itu, respons orang tua sebaiknya tidak berhenti pada tuntutan agar anak segera berbicara.
Orang tua dapat membantu dengan menggunakan kalimat sederhana, memberikan pilihan, menunjukkan benda yang sedang dibicarakan, membaca buku bergambar, serta memberi jeda agar anak mempunyai kesempatan merespons. Gestur anak tetap dapat dihargai sambil terus memberikan contoh bahasa lisan secara alami.
Pada saat yang sama, kemampuan memahami bahasa, merespons panggilan, menggunakan gestur, berbagi perhatian, bermain, dan berinteraksi dengan orang lain perlu diperhatikan secara menyeluruh. Tidak ada satu perilaku saja yang cukup untuk memastikan penyebab keterlambatan bicara.
Speech Delay: Bukan untuk Diberi Label, tetapi untuk Dipahami
Istilah speech delay atau keterlambatan bicara kerap menjadi sumber kekhawatiran bagi keluarga. Sebagian orang tua merasa cemas, sementara sebagian lainnya berharap anak akan berbicara dengan sendirinya ketika usianya bertambah.
Keduanya dapat dimengerti. Akan tetapi, ketika anak telah berusia tiga tahun dan belum menggunakan kata-kata bermakna, langkah yang lebih bijak adalah mencari evaluasi profesional, bukan sekadar menunggu.
Laporan kasus Firsiyanti dan rekan-rekan (2026) dalam Proceeding Series LSPID UMSurabaya menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam evaluasi dan penatalaksanaan keterlambatan bicara. Sementara itu, ASHA menjelaskan bahwa penilaian bahasa perlu mempertimbangkan kemampuan memahami bahasa, mengungkapkan bahasa, gestur, permainan, dan interaksi anak.
Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak, khususnya dokter yang menangani tumbuh kembang, serta meminta pemeriksaan pendengaran dan penilaian oleh terapis wicara sesuai kebutuhan. Evaluasi ini membantu mengidentifikasi aspek perkembangan yang perlu didukung dan menentukan langkah intervensi yang tepat. Penting pula dipahami bahwa keterlambatan bicara bukanlah diagnosis yang otomatis menunjukkan autisme atau kondisi tertentu lainnya. Jika terdapat kekhawatiran mengenai kontak mata, perhatian bersama, permainan, atau interaksi sosial, aspek-aspek tersebut sebaiknya turut dinilai oleh tenaga profesional. Tujuannya bukan memberi label, melainkan memahami kebutuhan anak secara menyeluruh.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga menekankan pentingnya pemantauan perkembangan dan konsultasi ketika anak belum mencapai tonggak perkembangan yang diharapkan. Identifikasi dan dukungan sejak dini dapat membantu anak memperoleh layanan yang dibutuhkannya.
Membangun Lingkungan Komunikasi yang Inklusif
Dari perspektif Ilmu Komunikasi, tantangan kita bukan hanya memahami bagaimana anak menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana lingkungan merespons pesan tersebut. Lingkungan yang inklusif tidak menjadikan kemampuan berbicara sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan, kedekatan emosional, atau kemampuan anak untuk berinteraksi. Anak perlu diberi ruang untuk berkomunikasi melalui cara yang saat ini dapat ia gunakan, sambil tetap memperoleh dukungan untuk mengembangkan kemampuan bahasanya.
Orang tua, guru, pengasuh, dan masyarakat perlu menghindari komentar yang meremehkan, seperti โnanti juga bisa sendiriโ, atau membandingkan perkembangan seorang anak dengan anak lainnya. Sebaliknya, mereka dapat mengamati perkembangan anak, memberikan stimulasi yang sesuai, dan mencari bantuan ketika muncul kekhawatiran.
Penggunaan perangkat digital juga perlu ditempatkan secara proporsional. Persoalannya bukan sekadar berapa lama anak menatap layar, melainkan apakah kesehariannya menyediakan cukup kesempatan untuk berinteraksi langsung, bermain, bergerak, mendengarkan bahasa, dan mendapatkan respons dari orang lain. Layar tidak dapat sepenuhnya menggantikan percakapan dua arah yang responsif. Dengan demikian, komunikasi yang mendukung perkembangan anak bukan hanya soal banyaknya kata yang didengar atau diucapkan, melainkan juga kualitas hubungan dan kesempatan untuk terlibat dalam interaksi.
Mendengarkan Anak Lebih dari Sekadar Kata-Kata
Anak yang belum berbicara tetap memiliki kebutuhan, keinginan, dan pengalaman yang perlu dipahami. Gestur, ekspresi, suara, dan perilakunya dapat menjadi bagian dari cara ia berusaha menjalin hubungan dengan lingkungan.
Akan tetapi, menghargai cara komunikasi anak tidak berarti mengabaikan tanda keterlambatan perkembangan. Ketika kemampuan berbicara belum berkembang sesuai harapan, kepedulian perlu diwujudkan melalui pengamatan, stimulasi yang tepat, dan evaluasi profesional.
Di sinilah perspektif Ilmu Komunikasi memberi kontribusi: mengajak kita melihat komunikasi sebagai proses yang lebih luas daripada sekadar ujaran, sekaligus mengingatkan bahwa keberhasilan komunikasi melibatkan pengirim pesan, penerima pesan, konteks, dan kemampuan untuk saling memahami. Anak belum bicara bukan berarti tidak berkomunikasi. Namun, ketika kata-kata belum juga berkembang, kita perlu mendengarkan lebih cermat, memahami lebih dalam, dan bertindak lebih cepat.
Oleh: Dr. Maria Ulfa Batoebara, M.Si.
Penulis Merupakan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dharmawangsa Sumatera Utara








