Oleh; Dr. Muhammad Saleh,. S.Sos.I,. M.A
Penulis merupakan dosen pada Sekolah Pascasarjana UIN-SUNA Lhokseumawe
Selaku makhluk sosial, manusia secara inheren membutuhkan relasi dengan individu lain. Keinginan untuk memahami lingkungan eksternal-serta kondisi internal dirinya-memunculkan dorongan kuat untuk melakukan komunikasi. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, individu yang tidak berkomunikasi cenderung mengalami isolasi sosial. Isolasi tersebut berpotensi memicu gangguan psikologis seperti depresi mental yang dapat mengganggu keseimbangan psikis. Karena itu, komunikasi dipandang sebagai unsur fundamental kehidupan manusia, sebanding dengan proses biologis esensial. Selama manusia masih hidup, kebutuhan untuk berkomunikasi tidak dapat dihindari. Secara sosiologis, tanpa komunikasi masyarakat tidak akan terbentuk; sebaliknya, tanpa masyarakat, manusia kehilangan arena untuk mengembangkan kompetensi komunikatif.
Secara biologis, kebutuhan manusia dapat dijelaskan melalui dua pendorong utama: (1) kebutuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan (2) kebutuhan untuk beradaptasi terhadap lingkungannya. Korespondensi fungsi ini dapat dipahami analogis: komunikasi bekerja seperti mekanisme aliran yang menopang keberlanjutan interaksi sosial. Dalam literatur religius, ketidakmungkinan mengelak dari kebutuhan komunikasi juga ditegaskan melalui narasi penciptaan pasangan manusia, yang memungkinkan ekspresi perasaan dan pikiran secara terarah.
Salah satu keunggulan spesifik manusia adalah kemampuan komunikasi pada level intrapersonal, interpersonal, hingga komunikasi publik. Seiring perkembangan zaman, manusia menciptakan beragam sarana untuk efisiensi pertukaran informasi. Namun, komunikasi verbal tidak sesederhana persepsi sehari-hari. Pesan verbal merujuk pada stimulus wicara yang disampaikan secara sadar untuk menjalin hubungan lisan. Sistem kode verbal disebut bahasa, yakni seperangkat simbol beserta kaidah penggabungannya yang digunakan dan dipahami oleh suatu komunitas.
Selain verbal, komunikasi nonverbal berperan besar karena menyalurkan informasi yang tidak disandikan melalui kata-kata. Makna nonverbal dipengaruhi konteks situasional dan variasi budaya sehingga tidak seluruhnya universal. Dengan demikian, komunikasi manusia merupakan proses dinamis yang melibatkan simbol verbal, isyarat nonverbal, serta pembacaan konteks lintas budaya. Dalam perspektif yang lebih transenden, shalat dapat dipahami sebagai komunikasi vertikal manusia dengan Tuhan, sedangkan ibadah sosial merepresentasikan komunikasi horizontal antarmanusia.









