Oleh; Salman Alfarisyi
Penulis Merupakan Mahasiswa Pada Fakultas Usuluddin Adab Dan Dakwah UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe
Generasi Z atau yang sering disebut Gen Z adalah kelompok yang lahir sekitar tahun 2012. Mereka tumbuh dalam dunia yang sudah terkoneksi internet, smartphone, dan media sosial sejak dini. Kondisi ini menjadikan Gen Z berbeda secara signifikan dibanding generasi sebelumnya, khususnya dalam cara mereka berinteraksi dengan media massa. Media massa yang dulunya didominasi oleh televisi, radio, dan surat kabar, kini bersaing dengan media sosial, portal berita digital, hingga platform hiburan berbasis algoritma seperti TikTok dan YouTube. Kajian mengenai hubungan Gen Z dengan media massa penting dilakukan karena perubahan pola konsumsi informasi ini berdampak langsung pada cara berpikir, berkomunikasi, serta membentuk opini publik.
Karakteristik Gen Z dalam Konsumsi Media
Gen Z dikenal sebagai digital native, yaitu generasi yang tidak pernah mengalami hidup tanpa teknologi digital. Mereka lebih menyukai media yang cepat, singkat, visual, dan interaktif. Video berdurasi pendek, infografis, meme, dan konten hiburan ringan jauh lebih menarik bagi Gen Z dibandingkan artikel panjang atau tayangan berita televisi.
Selain itu, Gen Z juga dikenal sebagai multitasker. Mereka bisa mengonsumsi berbagai jenis media sekaligus, misalnya menonton video YouTube sambil membuka Instagram dan mendengarkan musik di Spotify. Hal ini membuat perhatian mereka lebih terfragmentasi, sehingga media yang ingin menarik perhatian Gen Z harus mampu menyajikan konten yang padat, ringkas, dan relevan. Yang menarik, Gen Z cenderung kritis dan skeptis terhadap media tradisional. Mereka sering mempertanyakan keaslian berita dan lebih percaya pada konten yang dianggap autentik, terutama dari influencer atau kreator yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Hubungan Gen Z dengan Media Massa Tradisional
Televisi, radio, dan surat kabar mengalami penurunan popularitas di kalangan Gen Z. Televisi misalnya, tidak lagi menjadi sumber utama informasi. Tayangan berita dianggap terlalu formal, panjang, dan tidak interaktif. Surat kabar apalagi, semakin jarang dibaca karena keterbatasan akses serta kurang praktis dibanding portal berita online. Namun, hal ini bukan berarti Gen Z sama sekali meninggalkan media arus utama. Mereka tetap mengakses berita, tetapi lebih sering melalui versi digitalnya: portal berita daring, akun Instagram media, atau video ringkasan di YouTube. Dengan kata lain, Gen Z tetap peduli dengan informasi, tetapi cara mengakses dan bentuk sajian informasinya berbeda dari generasi sebelumnya.
Loyalitas terhadap satu media tertentu juga berkurang. Generasi ini lebih memilih mengikuti topik atau isu yang sedang tren daripada mengikuti brand media tertentu. Hal ini menyebabkan persaingan antar media semakin ketat untuk mendapatkan perhatian Gen Z. Media Sosial sebagai “Media Massa Baru”
Bagi Gen Z, media sosial tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga sumber utama informasi. TikTok, Instagram, Twitter/X, hingga YouTube adalah platform yang mereka gunakan sehari-hari. Algoritma dalam platform-platform ini membuat informasi menyebar cepat dan seringkali lebih menentukan popularitas sebuah berita dibandingkan nilai jurnalistiknya.
Fenomena User Generated Content (UGC) juga menandai pergeseran besar dalam media. Gen Z tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen informasi. Mereka aktif membuat konten berupa vlog, podcast, meme, thread, atau ulasan singkat. Selain itu, Gen Z sangat dipengaruhi oleh komunitas digital. Mereka lebih mempercayai ulasan teman sebaya atau konten dari influencer kecil (micro-influencer) dibandingkan tokoh tradisiaonal.
Dampak dan Tantangan
Perubahan cara Gen Z mengonsumsi media massa memiliki sejumlah dampak dan tantangan, baik positif maupun negatif.
- Akses Informasi Lebih Cepat: Gen Z bisa mengetahui peristiwa dunia secara real time hanya melalui ponsel mereka.
- Risiko Mis/Disinformasi: Karena banyak mengandalkan media sosial, Gen Z lebih rentan terhadap hoaks, clickbait, dan misinformasi.
- Perubahan Industri Media: Media massa harus beradaptasi dengan gaya konsumsi Gen Konten yang panjang, kaku, dan satu arah semakin ditinggalkan. Media perlu menghadirkan format baru yang lebih visual, singkat, interaktif, serta memanfaatkan berbagai platform digital.
- Budaya Viral: Nilai sebuah berita tidak lagi hanya diukur dari kualitas jurnalistik, tetapi juga seberapa cepat dan luas berita tersebut viral.
- Kemandirian Berpendapat: Gen Z lebih berani mengutarakan opini mereka melalui media Suara mereka sering kali ikut memengaruhi isu publik, bahkan politik.
Generasi Z, sebagai digital native, telah mengubah cara konsumsi media massa, beralih dari media tradisional ke platform digital dan media sosial. Mereka cenderung memilih konten cepat, visual, dan interaktif, serta lebih percaya pada informasi yang dianggap autentik. Perubahan ini membawa tantangan bagi media untuk tetap relevan dan menarik perhatian generasi yang kritis ini.









