Home / Pendidikan / Bahasa Indonesia di Masa Digital: Di Tengah Kreativitas dan Ketidakjelasan Makna

Bahasa Indonesia di Masa Digital: Di Tengah Kreativitas dan Ketidakjelasan Makna

Oleh: Hilyatul Sakinah

Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Di masa kini yang serba digital, bahasa Indonesia tidak hanya digunakan dalam kelas, kantor, atau media cetak saja. Bahasa kini menjadi alat utama dalam berkomunikasi melalui media sosial, platform streaming, dan ruang chat daring. Mulai dari kolom komentar di TikTok hingga caption Instagram, bahasa Indonesia muncul dalam berbagai bentuk ada yang baku, ada yang penuh singkatan, campuran dengan bahasa asing, atau bahan plesetan khas. Fenomena ini menunjukkan betapa kreatifnya masyarakat Indonesia dalam menggunakan bahasa. Namun di sisi lain, muncul juga rasa bingung karena batasan antara bahasa baku dan bahasa santai semakin samar.

Kreativitas yang segar tidak bisa dipungkiri bahwa generasi muda Indonesia memiliki daya cipta yang luar biasa dalam memainkan bahasa. Munculnya istilah-istilah seperti vibe check, rizz, gaskeun, hingga santuy menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus beradaptasi dengan budaya grobal dan tren digital. Bahasa santai menciptakan rasa persahabatan di antara pengguna internet dan menbuat komunikasi terasa lebih hidup serta ekspresif.

Menurut Pof. Dr. E. Zeanal Arifin, ahli linguistik dari Universitas Negeri Jakarta, โ€œBahasa adalah sistem tanda yang hidup dan terus berkembang sesuai kebutuhan para penuturnyaโ€. Artinya, perubahan dalam bahasa adalah hal yang wajar selama tidak menghilangkan fungsinya sebagai alat berkomunikasi. Dengan kata lain, kreativitas dalam berbahasa menunjukkan bahwa bahasa Indonesia tetap dinamis dan relevan di tengah perubahan zaman.

Makna Bahasa yang Mulai Kabur

Sayangnya, kreativitas ini juga membawa tantangan baru. Banyak istilah baru muncul tanpa makna yang jelas atau berubah cepat karena tren. Kata yang hari ini populer, bisa saja tidak dikenal lagi esok. Lebih dari itu, pengguna bahasa gaul yang terlalu berlebihan kadang membuat pesan tidak tersampaikan dengan baik, terutama bagi orang yang tidak mengikuti perkembengan istilah di dunia maya.

Dr. Hasan Alwi, mantan Kepala Pusat Bahasa, pernah mengatakan bahwa โ€œBahasa Indonesia yang baik bukan berarti baku, tetapi digunakan secara tepat sesuai situasi dan lawan bicaraโ€. Pandangan ini sangat relevan di era digital, Ketika pengguna media sosial harus bijak dalam memilih kapan menggunakan bahasa baku. Jika tidak, kebebasan berbahasa bisa jadi penyebab salah paham dan menurunnya kemampuan berkomunikasi secara formal.

Menjaga Keseimbangan Berbahasa

Bahasa Indonesia di era digital seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia menunjukkan fleksibilitas dan kekayaan ekspresi masyarakat. Di sisi lain, ia menghadapi ancaman penurunan pemahaman terhadap kaidah bahasa yang benar. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berbahasa dan tanggung jawab dalam menggunakannya. Sekolah, Media, dan Masyarakat perlu mendorong penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa membatasi kreativitas anak muda. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Mahsun, ahli bahasa dari Universitas Mataram, โ€œpelestarian bahasa bukan berarti menolak perubahan, tetapi mengarahkan perubahan agar tetap berpijak pada kaidah dan nilai bangsa.

Penutup

Bahasa Indonesia adalah cermin bagi identitas bangsa. Di era digital, cermin ini menampilkan wajah baru atau lebih dimanis, penuh warna, namun juga rentan terdistorsi. Tugas kita adalah memastikan bahwa dalam cepatnya perubahan, makna dan kaidah bahasa Indonesia tidak hilang. Dengan demikian, bahasa kita bisa tetap menjadi alat komunikasi yang efektif sekaligus simbol kebanggaan nasional, bukan hanya alat untuk mengikuti tren viral.

Tinggalkan Balasan